JEPARA – Pameran furnitur skala internasional bertajuk Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIFBW) yang digelar sejak 9 hingga 23 Maret telah rampung.
Tahun ini merupakan kali ketiga pameran tersebut diselenggarakan di Kota Ukir.
Selama dua pekan pameran tersebut berlangsung, transaksi yang berhasil dicatatkan sekitar Rp 1,671 miliar.
Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara Anik Rosyidah kemarin mengatakan, catatan transaksi itu merupakan hasil penjumlahan dari dua kategori pameran yang digelar.
Yaitu on the spot di meeting point yang digelar di Gedung Wanita mulai 9 hingga 16 Maret dan lalu transaksi on the spot di in house masing-masing peserta JIFBW.
”Transaksi yang terjadi di dalam acara JIF-BW 2025 on the spot di meeting point Rp 736 juta. Sedangkan on the spot di in-house Rp 935 juta,” papar Anik.
Berdasarkan laporan penyelenggara, tahun ini JIFBW berhasil menarik 346 pengunjung ke meeting point di Gedung Wanita Jepara.
Sementara yang berkunjung hingga in house ada 723 pengunjung. Di antara pengunjung itu, 30 orang di meeting point dan 58 pengunjung di in house merupakan pengunjung asing.
Terpisah, Ketua Steering Committee JIFBW Jamhari mengakui, dibanding tahun sebelumnya, jumlah peserta dan transaksi yang dicatatkan dalam JIFBW kali ini menurun.
”Mungkin karena secara umum kondisi ekonomi global dan domestik belum membaik. Namun, secara umum pelaksanaannya sudah lebih baik. Dukungan dan jejaring sudah jauh lebih kuat,” ungkapnya kemarin.
Meski begitu, dengan hadirnya JIFBW yang rutin digelar tiap tahun, pihaknya bertekad menjadikan Jepara sebagai kota mebel kelas dunia.
Industrinya berkembang lantaran perusahaan mebel di Kota Ukir mudah ditemukan oleh para pembeli, baik untuk pasar domestik maupun global.
Lewat pertemuan antara buyer dan produsen melalui JIFBW tersebut, industri mebel dan seni ukir khas Jepara akan semakin adaptif terhadap selera dan permintaan pasar.
”Hadirnya para buyer ke Jepara akan menimbulkan eksternalitas positif pada jangka panjang. Terbentuknya perilaku dan postur industri yang lebih berdaya saing vis a vis daerah atau negara produsen mebel lain. Dikarenakan para pelaku sudah dilatih untuk bersaing secara sehat secara internal,” imbuhnya. (rom)
Editor : Ali Mustofa