JEPARA – Desa Tempur di Kabupaten Jepara menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal berperan dalam mitigasi bencana.
Masyarakat desa ini telah menerapkan strategi berbasis budaya untuk bertahan dari berbagai ancaman alam, termasuk banjir bandang tahun 2006 dan longsor tahun 2014 yang memaksa ratusan warga mengungsi.
Penelitian terbaru tahun 2024 oleh tim Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus mengungkap bahwa warga Desa Tempur tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga mengandalkan tradisi leluhur dalam menghadapi bencana.
Studi yang dipimpin oleh Mohammad Khasan, M.Si., dengan anggota Dr. Mochamad Widjanarko, M.Si., dan Dian Wismar’ein, SE, MM., ini menemukan bahwa kearifan lokal berperan penting dalam membangun ketahanan masyarakat.
Beberapa strategi mitigasi berbasis budaya yang telah lama diterapkan di Desa Tempur sebagai berikut.
Sedekah Bumi, ritual tahunan sebagai ungkapan syukur dan bentuk pelestarian lingkungan.
Selain aspek spiritual, tradisi ini juga mendorong warga untuk menjaga ekosistem sekitar guna mengurangi risiko bencana.
Peringatan Malam Satu Suro, tradisi doa bersama dan penyembelihan ingkung ayam di Petilasan Eyang Kamunayasa yang memperkuat solidaritas masyarakat dalam menghadapi bencana.
Selanjutnya, Selametan Perempatan, ritual di titik-titik strategis desa untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lokasi rawan bencana.
Gotong Royong Reboisasi dan Infrastruktur, warga secara kolektif menanam pohon, membangun saluran air, serta memperkuat tanah dengan talud sederhana sebagai langkah pencegahan banjir dan longsor.
Sementara itu, Zaenal, salah satu tokoh masyarakat Desa Tempur, menegaskan bahwa kearifan lokal bukan sekadar ritual kepercayaan, tetapi juga cara memahami alam dan menjaga keseimbangan ekosistem.
“Tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga strategi bertahan hidup yang telah terbukti efektif,” ujarnya.
Dari perspektif psikologi bencana, penelitian ini mengaitkan kearifan lokal dengan teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1986) dan teori efikasi kolektif (Bandura, 1997).
Masyarakat Desa Tempur menunjukkan identitas kolektif yang kuat serta keyakinan bahwa tindakan bersama dapat mengurangi risiko bencana.
Peneliti merekomendasikan agar pemerintah memasukkan pendekatan berbasis budaya dalam kebijakan mitigasi bencana nasional dan daerah.
UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana diusulkan untuk diperbarui agar mengakomodasi strategi berbasis kearifan lokal.
Selain itu, edukasi tentang mitigasi bencana berbasis budaya perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah di daerah rawan bencana.
Penelitian ini menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik.
Tetapi juga pada kesadaran sosial dan budaya masyarakat. Desa Tempur membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi solusi nyata dalam menghadapi ancaman bencana di Indonesia. (dik)
Editor : Ali Mustofa