Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya dengan suntikan dana Rp 800 juta.
Kepala Disparbud Jepara Moh Eko Udyyono melalui Subkord Bidang Sejarah dan kepurbakalaan Lia Supardianik menyampaikan pihaknya telah menyiapkan sejumlah kegiatan kebudayaan.
Di antara program strategisnya ialah program peningkatan akses museum, pengelolaan sarana prasarana, dan pengelolaan koleksi.
"Dominan untuk peningkatan akses museum dan program publik seperti pelatihan maupun workshop," ungkapnya Jumat (14/2).
Selain itu, juga dilakukan pemanfaatan koleksi-koleksi yang ada.
"Memang dari tahun ke tahun, yang akan menjadi agenda rutin adalah belajar ukir. Sementara itu tahun ini ada tambahan belajar gerabah," jelasnya.
Diketahui saat ini, Museum RA Kartini ialah kelas b dan masih terus berfokus terhadap pemenuhan dan penataan koleksi.
"Memang kami bercita-cita untuk menuju ke kelas A dari status kali ini yang masih kelas B. Tapi untuk saat ini belum untuk menuju ke sana, masih fokus dalam pemenuhan koleksi," ujarnya.
Pihaknya turut mengupayakan hibah dan penelusuran terkait dengan koleksi yang layak untuk dipajang di museum. Baik dalam bentuk prasasti maupun ODCB lainnya.
"Tahun ini kami akan mulai kembali untuk mencari kitab suci (prasasti, Red). Kebanyakan tersebar di daerah Timur Jepara," katanya.
Sepanjang proses kerja-kerja kebudayaan yang dilakukannya, menurut potensi temuan di Tempur tidak sebanyak dengan yang di daerah lainnya.
"Seperti di daerah Tempur ini masih perlu digali lebih jauh, kalau jenis temuannya ya tak bisa dipastikan," tutupnya sembari menyinggung terakota dan prasasti-prasasti.(fik)
Editor : Noor Syafaatul Udhma