GROBOGAN - Dua mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang tewas tenggelam. Hal tersebut terjadi usai dilakukan balapan renang pada Selasa (11/2) sore di kolam retensi depan Fakultas Kedokteran Unissula turut Kelurahan Terboyo Kulon Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Satu korban ialah warga Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Andre Budi Setyawan, 22, merupakan mahasiswa angkatan 2021 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sementara korban yang satunya ialah mahasiswa teknik industri, Moh Syarif Hidayatullah, 20, asal Bawean, Gresik.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari Polrestabes Semarang dan Basarnas Semarang diketahui, kejadian tersebut pada Selasa (11/2) sore jelang petang.
Kronologi awalnya, pada Selasa sekitar pukul 16.30 Andre dan Syarif bersama empat teman mahasiswa lainnya meliputi Izra, Fadlan, Riki dan Oncom berangkat dari stand unit kegiatan mahasiswa (UKM) menuju ke kolam retensi depan fakultas kedokteran untuk bersantai.
Setelah sampai di lokasi, Andre bilang ke Syarif, mengajak sekaligus menantang apakah berani berenang dari arah Utara ke Selatan. Kalau berhasil akan diberi uang Rp 50 ribu.
Syarif pun mengiyakan dengan berani. Pada saat itu sempat timbul pro kontra terkait dengan tawaran tersebut. Pasalnya, kolam retensi memiliki panjang sekitar 100 meter, dengan kedalaman 3-4 meter.
Namun sayembara tersebut tetap berlangsung.
Pada saat berenang, sebelum sampai pada sisi Selatan kolam retensi, Syarif mengalami kelelahan dan tidak kuat melanjutkan. Dia berteriak minta tolong, sebelum akhirnya tenggelam.
Menyaksikan peristiwa tersebut, Andre dan Fadlan turun ke kolam untuk menyelamatkan Syarif. Alih-alih berhasil, namun justru Andre malah ikut tenggelam.
Sedangkan Fadlan berhasil naik ke atas dan minta tolong kepada para pekerja proyek yang ada di dekat lokasi kejadian.
Sekitar pukul 18.30 tim inafis Polrestabes Semarang dan Basarnas Kota Semarang tiba di tempat kejadian perkara. Selanjutnya dilakukan pencarian korban oleh Basarnas dengan cara menyisiri kolam retensi dengan menggunakan perahu karet.
Lalu pada pukul 19.37 Andre berhasil ditemukan. Tak berselang lama kemudian, pukul 19.45 Syarif juga berhasil ditemukan. Keduanya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di dasar kolam retensi oleh tim SAR gabungan dengan cara penyelaman.
"Kedua korban ditemukan hampir dalam waktu yang bersamaan dan langsung dibawa ke RSI Sultan Agung untuk proses otopsi," terang Kepala Kantor Basarnas Semarang, Budiono.
Kondisi rumah duka, Andre, yang berada di RT 5/RW 2 Desa Pecangaan Kulon Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara telah dipenuhi sejumlah karangan bunga pada Rabu (12/2). Ucapan turut berdukacita tersebut terpampang dari pihak kampus, rekan dan pihak-pihak lainnya.
Beberapa kursi dan panggung telah didirikan untuk proses kirim doa hingga tujuh hari mendatang. Pada saat ke rumah duka, wartawan disambut oleh sang ayah, Boni Sandya Budi Antara, 47.
Dengan mata yang masih sembab, Boni menceritakan sosok almarhum anaknya. Pihaknya sempat tidak menyangka bahwa Andre akan lebih dulu berpulang.
Pihaknya tertegun saat puluhan orang turut mengantar jenazah ke rumah duka pada Selasa (11/2) sekitar pukul 23.30. "Diantar banyak orang, teman SMP, SMKN 1 Jepara, kampus (Unissula, Red) dan teman-teman organisasinya. Setelah sampai langsung saya sucikan (mandikan, Red)," tuturnya.
Boni seakan masih tak menyangka, pasalnya putra pertamanya tersebut telah selesai skripsi dan menunggu jadwal wisuda.
"Kami bukan orang yang berada, Andre kuliah pun jalur beasiswa, dulu SMK ngambil jurusan animasi. Kemudian lanjut kuliah pendidikan bahasa dan sastra. Matur kalih (bilang dengan, Red) kami, ya sing penting bisa sarjana dan mengembangkan bakat," jelasnya.
Pihaknya bersama sang istri pun mengaku tak akan kuat apabila dipanggil pihak kampus untuk menggantikan anaknya diwisuda. "Anak saya ini memang sudah mau wisuda, tapi rencana mau terus mengambil PPG supaya bisa mengajar," ujarnya.
Andre di matanya merupakan anak yang mandiri, tak tidak pernah merepotkan orang tua. Di samping itu juga mudah bergaul, memiliki kepedulian sosial tinggi.
Terbukti dengan tergabungnya dalam paramedis dan aktivitas sosial lainnya. Termasuk aktif dalam teater.
"Beli baju sendiri, apa-apa sendiri, tidak mau minta orang tua. Dia juga sempat bilang mau menguliahkan adiknya yang kini masih kelas VIII SMP," ucapnya.
Jenazah telah dikebumikan pada Rabu (12/2) pukul 09.00 di pemakaman Jabang Bayi, Desa Pecangaan Kulon. Sekitar 50 meter dari rumah duka.
"Anaknya tidak mau merepotkan, sakit saja tidak mau dijenguk. Tidurnya di sanggar kampus, sama teman-temannya. Terakhir pulang ke rumah Jumat (7/2) saat saudara dari simbahnya meninggal. Semalam selesai tujuh harinya," terangnya.
Pihaknya hanya menitipkan pesan apabila putranya tersebut memiliki kesalahan dan kekurangan agar dimaafkan.
"Maafkan anak kami, tolong juga kirimkan doa untuknya. Semoga mendapatkan tempat terbaik," tutupnya.
Sementara itu, salah satu tetangga, Ika, 29, menyampaikan sosok Andre di matanya ialah tetangga yang ramah.
"Grapyak, pinter, sopan. Kaget dan merinding waktu tadi pagi mengetahui kalau mas Andre meninggal dunia. Orangnya baik, sering main sama ponakan saya," pungkasnya.(fik)
Editor : Noor Syafaatul Udhma