Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Potret Ratusan Warga Donorejo Jepara Selametan Tolak Tambang, Ini Harapannya

Fikri Thoharudin • Rabu, 22 Januari 2025 | 16:34 WIB
GUYUB: Warga Dukuh Pendem, Toplek dan Gapoktan Bina Marga Clering berdiskusi terkait dengan aktivitas tambang di kawasan tersebut Senin (20/1) malam.
GUYUB: Warga Dukuh Pendem, Toplek dan Gapoktan Bina Marga Clering berdiskusi terkait dengan aktivitas tambang di kawasan tersebut Senin (20/1) malam.

JEPARA - Ratusan orang yang terdiri dari warga Dukuh Pendem, Dukuh Toplek serta Gapoktan Bina Marga Clering Kecamatan Donorojo gelar selamatan tolak tambang oleh CV Senggol Mekar.

Acara diinisiasi oleh masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Jagat Caping Gunung tersebut dihelat pada Senin (20/1) malam.

Meskipun cuaca hujan, akan tetapi tetap berlangsung di area lokasi tambang Dukuh Pendem.

Acara dimulai dengan pembacaan manakib hingga lantunan sholawat. Setidaknya 200 orang, meliputi anak-anak, remaja hingga orang dewasa mengikuti dari awal sampai akhir.

Gema sholawat menggetarkan bibir pada warga. Terlebih di saat sampai pada sholawat Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami," sirat kiai yang memimpin pembacaan.

Warga Dukuh Pendem Sungalip, 44, menyampaikan adanya tambang amat meresahkan warga setempat. Lantaran jarak antar lokasi penambangan dan permukiman hanya sekitar 20 meter.

"Alat berat masuk tidak ada kata permisi. Dampaknya polusi air, udara, dan suara karena sangat berdekatan dengan permukiman," ungkapnya Senin (20/1) malam.

Acara tersebut diharapkan juga dapat membawa dan mendatangkan kesehatan dan keselamatan bagi para warga.

Utamanya usai mendapati sejumlah intimidasi, baik perkataan maupun yang mengarah pada fisik hingga sampai mengancam nyawa.

"Mulai pertama kali beroperasi sejak akhir Desember 2024. Kemudian warga melakukan aksi unjuk rasa pada Jumat (10/1) dan menghasilkan kesepakatan untuk diberhentikan sementara," ucapnya.

Pihaknya juga sempat didatangi pihak tambang dan diinterogasi selama kurang lebih 2,5 jam. "Dari pihak tambang ingin warga mengikuti (Keinginan, Red) tambang, intinya bagaimana bisa melakukan aktivitas lagi," ujarnya.

Sementara itu yang menjadi keinginan warga meminta ditutup secara total. Mengingat dampak yang ditimbulkannya. Termasuk terhadap para petani.

Sebagimana diketahui, adanya tambang membuat limbah mengarah ke sungai Bendung Pasokan.

Sementara itu aliran air ke area persawahan tidak terkontrol dan berisiko menyebabkan banjir.

"Yang terdampak Dukuh Nglendoh dan Tempur, bisa kelelep (karena sedimentasi, Red). Petani di Clering, wilayah perhutani, Kedungsari, di sekitar Bendung Pasokan maupun Karangsari," sebutnya.

Sementara itu Ketua RT 2, Dukuh Pendem, Asmui menyampaikan meskipun saat ini aktivitas tambang sudah berhenti sementara, tapi para warga secara tegas ingin itu ditutup permanen.

"Pengajuan tambang seluas sekitar 3,6 hektare, meliputi Dukuh Toplek dan Pendem. Risiko tanah longsor, pergerakan tanah kerusakan jalan semakin tinggi. Belum lagi dampak terhadap Bendung Pasokan yang difungsikan untuk mengairi ribuan hektare sawah di bawahnya," jelasnya.

Para warga berharap, petinggi setempat juga berkomitmen atas apa yang telah dibubuhkan di atas materai saat adanya demo (10/1) lalu. (fik/war)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #warga #cuaca hujan #tambang #keselamatan #permukiman