JEPARA – Warga Dukuh Ngelak, RT 30/RW 5, Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, tidak bisa tidur nyenyak saat musim hujan seperti saat ini.
Itu dialami setidaknya setiap tahun. Sejak November hingga Maret. Warga harus ”membentengi” kampung mereka dari ganasnya ombak.
Ketua RT 30 Mustaqim menyebut, pihaknya beserta para warga harus menjalani siklus tahunan itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
”Setiap tahun ada abrasi dan semakin parah. Semoga pemerintah diupayakan terkait penanganannya. Karena kondisi warga desa juga memprihatinkan," ungkapnya saat ditemui wartawan kemarin.
Dia menyampaikan, ada sederet tanggul dari klontong bis dan beton, tetapi telah rusak dimakan ganasnya ombak saat musim baratan.
”Abrasi memang sudah sejak dulu, tapi tingkat keparahannya sekitar empat tahunan ini. Di sini (Dukuh Ngelak, Red) ada setidaknya 80 KK. Dampaknya ya yang rumahnya di pesisir tidak bisa tidur nyenyak," jelasnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, warga bergotong royong melakukan pemancangan bambu dan pasir dalam karung di bibir-bibir pantai.
”Tapi ini pun tidak bisa bertahan lama. Setahun sudah harus pemancangan lagi. Ya namanya juga bersifat sementara," ucapnya.
Saat wartawan meninjau lokasi terdampak abrasi ini, kondisinya semakin parah.
Selain ambrolnya bibir pantai, juga ada banyak sampah yang terbawa ombak. Di lokasi itu, tak ada tanaman magrove yang memadai untuk menangkal ombak.
Sejumlah warga tampak mengikatkan tali tambang plastik dan kawat untuk menyatukan dan menguatkan antar bilah bambung yang dipancang.
Rohmad, 38, dan ayahnya, Nurhadi, 55, di antara warga yang membuat penahan ombak sementara itu.
Tujuannya untuk mengamankan rumah mereka yang berada sejurus dengan hantaman ombak pantai pesisir utara Jawa itu.
”Kami ingin di sini diberi semacam paku bumi, seperti di Desa Bulu. Supaya setiap tahun kami tidak perlu khawatir dengan keadaan seperti ini (abrasi, Red)," tanggapnya.
Dampak ganasnya ombak tak jarang memaksa para warga, utamanya yang memiliki anak kecil hingga mengungsikan momongan ke kerabat lain.
”Saya juga pernah seperti itu (mengungsikan anak, Red). Semalam (15/12) suara gemuruh ombak dan air mengalir hingga pelataran rumah," ceritanya.
Dia mengaku, sejak November hingga Maret, selain dia dan warga lain tak bisa miyang (melaut) juga harus memikirkan kondisi rumahnya.
”Namanya punya bondo (harta) sedikit ya kami depi (jaga) sebisanya. Kalau terjadi hal lain ya kersane (kehendak) Gusti," ujarnya pasrah. (fik/lin)
Editor : Ali Mustofa