JEPARA – Kejadian pembakaran dan penemuan limbah medis di Dukuh Gempol, Desa Mambak, Pakis Aji, masih belum menemui titik temu.
Tempat kejadian perkara (TKP) tersebut, diketahui berada di antara area persawahan dan perkebunan Dukuh Gempol.
Berjarak 1,8 kilometer dari Jalan Raya Jepara-Bangsri dengan waktu temput sekitar lima menit menggunakan sepeda motor.
Sebelum sampai ke titik lokasi kejadian, perlu melewati jalan desa beraspal selebar 3 meter dan area perkebunan dan permukiman warga.
Lokasi penemuan limbah medis berjarak 500 meter dari permukiman yang belum terlalu padat penduduk.
Berdasarkan tinjauan wartawan di lapangan, terdapat dua tempat pembuangan limbah medis berbahaya atau B3 itu.
Dengan luas lahan sekitar 15x20 meter dan 10x30 meter dalam lahan kondisi terbuka.
Satu di antara tumpukan limbah medis itu, sudah dalam keadaan hancur usai dibakar. Sedangkan yang satu masih terbungkus dalam puluhan plastik.
Meskipun sudah hangus terbakar, tapi limbah yang didominasi obat-obatan tersebut, masih mengeluarkan aroma menyengat.
Tak hanya itu, wartawan juga merasakan pusing dan mual, meski baru beberapa menit berada di lokasi.
Yang membuat janggal, juga terdapat lubang yang tengah digali selebar 5x5 meter dengan dengan kedalaman 5 meter.
Tumari, salah satu warga Dukuh Gempol Desa Mambak mengatakan, limbah medis yang ada itu, akan ditimbun di dalam tanah.
”Kemarin ada alat berat kuning berukuran tanggung yang digunakan untuk mengeruk dan mengurug tanah. Tapi setelah ramai warga yang protes tak terima kalau ternyata limbah medis akan ditempatkan di situ, tahu-tahu alat beratnya sudah tidak ada," jelasnya.
Baca Juga: Kurang Greget, Pemain Ujung Tombak Persiku Kudus Ronny Maza Baru Ceploskan 2 Gol dari 5 Laga
Sementara itu, status tanah lokasi pembuangan limbah medis itu, merupakan milik warga yang disewakan kepada salah satu pengepul sampah yang juga warga Desa Mambak.
Tumari menjelaskan, waktu pembakaran sampah medis itu, diduga pada Selasa (1/10) sekitar pukul 17.00.
Saat itu, dia bersama istrinya sedang berada di ladang yang tak jauh dari lokasi untuk menanam jagung.
Dia mengetahui ada kepulan asap yang berbau menyengat lalu didatangi.
Pembakar limbah medis itu, bernama Agung yang juga penyewa lahan dan pemilik usaha pengepul sampah.
”Awalnya penyewa lahan itu mengaku, mau menjadikan lahan tersebut sebagi tempat pemilihan sampah. Tapi kok ternyata ada limbah medis yang dibakar. Kemudian sampai malam tempat ini ramai," ceritanya.
Selain soal dampak terhadap kesehatan yang membuat warga tidak setuju.
Lokasi tersebut juga berada di depan area makam cikal bakal desa atau Simbah Kamdowo.
Termasuk keberadaan area lahan dan persawahan warga yang berada di bawah tempat pembuangan limbah tersebut.
Saat Jawa Pos Radar Kudus meminta tanggapan Hadi Prayitno, kepala Desa Mambak, dia menanggapi yang menyewa dan ingin mengelola sampah tersebut, merupakan pengepul yang juga merupakan warganya.
”Ini baru pertama kali kejadian (pembuangan dan pembakaran limbah medis, Red). Awalnya (lahan) mau digunakan untuk milah-milah sampah atau rosok. Karena sejak dulu penyewa lahan sudah memiliki usaha di bidang itu. Niatnya mau ngembangin di tanah sewa itu," tuturnya.
Namun saat ini, terutama usai kejadi penemuan dan pembakaran limbah rosok yang meresahkan tersebut, pihaknya belum bertemu dengan Agung lagi.
”Katanya (Agung) masih pergi. Ada urusan ke Purwodadi. Namun hari ini (kemarin, Red) juga sudah ada pihak kepolisian dan tim inafis yang meninjau dan membawa sampel limbah medis itu untuk penyelidikan," katanya.
Disinggung terkait dengan penanganan sampah di desanya, Prayitno menyampaikan, untuk sampah warga diambil bank sampah Desa Mambak.
”Pengambilan dua minggu sekali. Kemudian dibuang ke TPA Bandengan," imbuhnya. (fik/lin)
Editor : Ali Mustofa