JEPARA – Pemerintah Desa (Pemdes) Tempur, Kecamatan Keling terus menggenjot pengembangan sektor pariwisata untuk menarik minat pengunjung.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan berbagai spot wisata menjadi satu paket destinasi.
Sejauh ini, Desa Tempur memiliki setidaknya sembilan destinasi wisata yang sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Beberapa di antaranya adalah river tubing Kali Tempur, Jembatan Kaliombo, Tempur Village, persawahan Romban, Kaldera Muria, spot petik kopi di Kopi Tempur, hingga Candi Angin. Selain itu, desa ini juga menampilkan potret kerukunan umat beragama yang tercermin dari Masjid Nurul Hikmah yang berdiri berhadapan dengan Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) di Dukuh Pekoso.
"Kami juga punya Bukit Bejagan yang dilengkapi gardu pandang atau rumah panggung. Dengan tiket masuk hanya Rp 5 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati keasrian alam dan spot foto yang Instagramable, atau sekadar menikmati kopi di ketinggian," ujar Mahfudz Aly, Sekretaris Desa Tempur, pada Kamis (21/9).
Desa Wisata Tempur rata-rata menerima sekitar 50 wisatawan per hari. Namun, jumlah ini bisa melonjak hingga ribuan pengunjung aat akhir pekan atau libur panjang.
Mahfudz menambahkan bahwa kemajuan wisata ini tak lepas dari penganggaran melalui APBDes, baik untuk pengembangan sarana fisik maupun nonfisik.
Pemdes juga terus memberdayakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mempromosikan destinasi wisata setempat.
Selain menambah spot foto, tahun ini Pemdes juga mengajukan perbaikan akses jalan menuju Bukit Bejagan.
Mahfudz mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati, terutama saat melewati tanjakan ekstrem di Dukuh Duplak, sebelum menuju lokasi wisata tersebut.
"Pengunjung harus waspada, terutama saat turun. Selalu cek kondisi rem kendaraan sebelum berangkat untuk menghindari kecelakaan akibat rem blong," imbaunya.
Mahfudz berharap dengan semakin terkenalnya Desa Wisata Tempur, masyarakat setempat juga dapat merasakan dampak positifnya.
Ia mengajak warga yang memiliki lokasi strategis untuk memanfaatkan peluang usaha, seperti membuka toko souvenir, warung, kedai kopi, kafe, atau menyediakan fasilitas tambahan di area wisata.
Desa Tempur saat ini juga sudah memiliki tiga homestay dan area camping ground yang dikelola oleh masyarakat setempat, dengan harga mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per malam.
Pemdes Tempur berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi wisata desa, baik dari sisi sarana fisik seperti pembangunan gapura, taman, jalan masuk, toilet umum, gazebo, spot foto, hingga papan informasi wisata. Di sisi lain, mereka juga menyediakan pelatihan bagi masyarakat untuk mendukung pengelolaan wisata.
"Semangat kami adalah untuk terus mengembangkan potensi wisata alam dan budaya, dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkas Mahfudz. (fik/war)
Editor : Abdul Rokhim