JEPARA – Mahasiswa semester VII Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ditemukan tewas bersimbah darah di dekat SPBU Bendan Ngisor, Semarang, pada Selasa (17/9) sekitar pukul 03.00.
Korban diketahui bernama Muhammad Tirza Nugroho Hermawan, 21, warga Desa Bandungharjo, Donorojo, Jepara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, Korban tewas usai dikeroyok segerombolan gangster yang membawa senjata tajam.
Ditemukan sejumlah luka di paha sebelah kiri, luka sobek paha sebelah atas, luka sobek sebelah perut, dan lecet-lecet bagian selangkangan.
Jenazah tiba di rumah duka kemarin pukul 13.15 usai dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi.
Sesampainya di rumah duka para pelayat menyambut dan membaca tahlil dan doa.
Setelah itu, jezanah disalatkan di masjid pada pukul 14.00 dan dikebumikan di pemakaman desa setempat.
Sukamto, 73, kakek korban mulanya tak percaya dengan kabar yang diterimanya setelah Subuh kemarin.
Lantaran cucunya baru kembali ke Semarang pada Senin (16/9) sore.
”Berangkat (ke Semarang) dari rumah pukul 16.30. Sudah ngabari kalau telah tiba di Semarang sekitar pukul 19.00," sebutnya.
Mulanya pada Minggu sampai Senin (15-16/9) korban pulang di rumah untuk berkumpul bersama keluarga besarnya. Seiring perayaan peringatan maulid Nabi.
Korban merupakan anak satu-satunya dari pasangan Candra Yuli Hermawan dan Atik.
Sukamto mengenang cucunya sebagai anak yang pendiam dan santun, tapi memiliki banyak teman. Begitu pun para tetangga setempat mengenalnya.
”Kemarin (Senin, Red) pamit kembali lagi ke Semarang, karena Selasa ada kuliah. Kemudian kami sekeluarga izinkan untuk berangkat pada sore hari, daripada kemalaman," ucapnya.
Tak hanya itu, Sukamto juga menyampaikan, moment berkesan bersama cucu kesayangannya tersebut.
Belum lama ini, saat ada acara di rumah kerabat di Bogor. Korban nyetir mobil dari rumahnya sampai Bogor.
Kemudian ke Bekasi dan saat pulang mampir rumah pak dhenya di Rembang.
”Nyopir sendiri sampai rumah lagi. Tidak mau diganti bapaknya. Mungkin sudah punya firasat," tutupnya sambil meminta undur diri. (fik/lin)
Editor : Ali Mustofa