RADAR KUDUS - Ratu Shima adalah salah satu penguasa legendaris dari Kerajaan Kalingga, yang terletak di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.
Di bawah kepemimpinannya, kerajaan ini mencapai masa kejayaannya.
Kalingga diperkirakan berdiri sejak abad ke-6 dan berkembang pesat di bawah Ratu Shima, yang dikenal karena kepemimpinannya yang adil dan keras dalam menegakkan hukum.
Kerajaan Kalingga didirikan oleh para pelarian dari India yang menganut agama Hindu dan Buddha, dengan nama "Holing" yang berasal dari bahasa Tiongkok, merujuk pada banyaknya pendeta dari Tiongkok yang menetap di wilayah ini.
Kerajaan ini mencakup wilayah yang kini dikenal sebagai Blora, Purwodadi, Salatiga, Jepara, dan Pekalongan.
Ratu Shima, yang merupakan putri dari Prabu Wasugeni, mulai memerintah pada tahun 674 M setelah menggantikan suaminya, Prabu Kirathasingha, yang wafat.
Keadilan Tegas Ratu Shima dan Dampaknya bagi Masyarakat Kalingga
Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang menerapkan prinsip keadilan dengan sangat tegas.
Salah satu kebijakan paling terkenal yang diterapkannya adalah hukum anti-pencurian yang keras.
Dikisahkan, untuk menguji kejujuran rakyatnya, Ratu Shima meletakkan kantong emas di tengah alun-alun kerajaan.
Selama tiga tahun, tidak ada yang berani menyentuhnya, hingga akhirnya putra mahkota menyentuh kantong tersebut dan dihukum oleh Ratu Shima.
Meskipun putra mahkota tersebut tidak dihukum mati atas permintaan Dewan Menteri, ia tetap harus menerima hukuman potong kaki karena melanggar hukum dengan menyentuh kantong emas.
Tindakan ini, meskipun terkesan kejam, memperlihatkan betapa teguhnya Ratu Shima dalam menegakkan keadilan, bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Kepemimpinan yang adil dan tegas ini membuat masyarakat Kalingga dikenal sebagai masyarakat yang jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.
Dinasti Ratu Shima dan Pengaruhnya pada Kerajaan Lain
Ratu Shima memiliki seorang putri bernama Parwati, yang menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh, Mandiminyak.
Dari pernikahan ini, lahirlah cucu Ratu Shima, Sannaha, yang kemudian menikah dengan raja ketiga Kerajaan Galuh, Bratasenawa.
Sannaha dan Bratasenawa memiliki seorang putra bernama Sanjaya, yang kelak menjadi penerus takhta Kerajaan Kalingga Utara setelah Ratu Shima wafat.
Di bawah kepemimpinan Sanjaya, Kalingga Utara berkembang dan menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Kuno, yang dikenal dengan Dinasti Sanjaya.
Dinasti ini kemudian menjadi salah satu dinasti besar di Nusantara, yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, terutama di Jawa Tengah.
Peninggalan Kerajaan Kalingga: Jejak Sejarah yang Tersisa
Meskipun Kerajaan Kalingga telah lama hilang, beberapa peninggalannya masih dapat ditemukan di berbagai lokasi di Jawa Tengah.
Peninggalan-peninggalan ini menjadi bukti kejayaan Kalingga pada masa lalu dan warisan budaya yang masih dihormati hingga kini. Berikut adalah beberapa peninggalan Kerajaan Kalingga:
- Candi Angin
Terletak di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Candi Angin berdiri di tempat yang tinggi dan tetap kokoh meskipun sering diterpa angin. Candi ini merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Kalingga yang menunjukkan kehebatan arsitektur masa itu.
- Candi Bubrah
Candi ini juga ditemukan di Desa Tempur, Jepara, dan merupakan salah satu candi Buddha. Candi Bubrah merupakan bagian dari kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, terletak di antara Percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu. Candi ini memperlihatkan pengaruh ajaran Buddha di wilayah tersebut. - Prasasti Sojomerto
Prasasti ini ditemukan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Bertuliskan dalam bahasa Melayu Kuno, prasasti ini berasal dari abad ke-7 M dan mengisahkan tentang tokoh Dapunta Salendra, yang merupakan cikal bakal raja-raja dari Dinasti Sailendra. - Prasasti Tukmas
Prasasti ini telah ditemukan di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang.
Prasasti Tukmas mengisahkan tentang mata air yang jernih, yang diibaratkan dengan Sungai Gangga yang berada di India. Selain itu, prasasti ini juga menampilkan gambar trisula, kendi, kapak, cakra, dan bunga teratai yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu.
Warisan Ratu Shima dalam Budaya dan Sejarah Nusantara
Ratu Shima tidak hanya dikenang sebagai pemimpin yang adil, tetapi juga sebagai sosok yang berperan dalam pembentukan identitas budaya dan sejarah di Nusantara, khususnya di Jawa Tengah.
Melalui nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang dia tegakkan, Ratu Shima menjadi teladan bagi para penguasa dan masyarakat di kemudian hari.
Warisan Ratu Shima masih terasa hingga saat ini, terutama dalam budaya dan tradisi di Jepara dan sekitarnya. Masyarakat setempat terus mengenang dan menghormati Ratu Shima sebagai simbol keadilan yang abadi.
Berbagai situs sejarah, monumen, dan tradisi budaya yang terkait dengan Kerajaan Kalingga dan Ratu Shima menjadi bukti nyata akan pengaruhnya yang kuat dalam sejarah Indonesia khususnya di Jepara.
Ratu Shima adalah sosok yang melampaui zamannya, meninggalkan warisan kepemimpinan yang berlandaskan keadilan dan integritas, yang terus menginspirasi hingga saat ini. (ury)
Editor : Noor Syafaatul Udhma