JEPARA -Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dan Unwahas Semarang melaksanakan pemberdayaan desa binaan di Desa Semat,Tahunan, Jepara.
Program ini menjadi salah satu program hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi 2024. Pelaksanaan program hibah ini merupakan kolaborasi dari dosen Unisnu Jepara Prodi Teknik Informatika RH Kusumodestoni sekaligus ketua tim, anggota Ibu Azzah Nor Laila dari Prodi Pendidikan Agama Islam, Ibu Olivia Revalita Candraloka dari prodi pendidikan Bahasa Inggris, dan juga Bapak Darmanto dari Prodi Teknik Mesin Universitas Wahid Hasyim Semarang. Selain itu tim dosen juga mengundang mahasiswa Unisnu Jepara.
Baca Juga: Niat Puasa pada 9 dan 10 Muharram atau Asyura Lengkap dengan Tata Cara dan Waktu Berpuasa
Program pengabdian ini bertujuan memberdayakan pengelola pantai, pokdarwis, serta warga Desa Semat dalam meningkatkan pengelolaan wisata pantai secara maksimal menuju Desa Semat yang bermartabat dan menjadi desa wisata edukatif.
Rangkaian kegiatan pelatihan serta pendampingan dilaksanakan untuk menjadi mitra terkait tata kelola wisata edukatif, mulai dari penataan kebersihan lingkungan pantai, inovasi tempat edukatif, wisata religi, dan kuliner sebagai paket wisata. Kegiatan pelatihan juga dihadiri Kades Semat, perangkat desa, Pokdarwis, pengelola pantai, dan pemuda desa.
“Program Pemberdayaan Desa Binaan ini merupakan bentuk sinergi kampus dalam upaya pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya aspek ekosistem laut. Melalui pengabdian terkait permasalahan lingkungan, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi sebagai manfaat sektor pariwisata yang merata, sehingga ke depan dapat memperluas kesempatan pekerjaan warga dan meningkatkan pendapatan desa Semat,” terang Ketua Tim Pengabdi RH Kusumodestoni.
Baca Juga: Duh! 2 Ribu Bansos di Jepara Gagal Tersalurkan, Begini Kata Dinas Sosial
Salah satu masalah wisata pantai yakni tumpukan sampah dan keruhnya air laut. Maka untuk menciptakan kebersihan lokasi wisata pantai perlu adanya kesadaran serta peran banyak pihak. "Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan adalah kunci awal, kemudian tindakan tidak membuang sampah sembarangan harus terus dikampanyekan. Hal itu sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan manusia untuk tidak merusak alam,” ungkap Azzah Nor Laila sebagai pemateri.
Olivia Revalita Candraloka mengungkapkan, potensi Desa Semat sebagai desa wisata edukatif sangat besar sekali. Melalui penataan tempat edukatif di wilayah pantai, sudut literasi di sekitar pantai, dan adanya pasar tradisional memiliki daya tarik bagi wisatawan mengenal beragam makanan khas daerah desa.
“Tempat edukatif di Pantai Semat menjadi inovasi serta terobosan untuk pengembangan wisata ramah anak. Anak-anak tidak hanya berenang di pantai Semat, tetapi dapat mengasah keterampilan motorik dan kognitif,” kata Olivia Revalita Candraloka saat memaparkan materi.
Kepala Desa Semat mengaku senang dengan adanya kegiatan pengabdian ini, dan berharap kekompakan perangkat desa serta seluruh warga Desa Semat.
“Semoga masyarakat Desa Semat dapat tergugah, meningkat kesadarannya menjaga lingkungan, berkolaborasi serta bersinergi memajukan Desa Semat menjadi desa bermartabat dan desa wisata edukatif,” kata Kades Semat.
Tim pelaksana mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi yang telah memfasilitasi terlaksananya program pemberdayaan desa binaan di Desa Semat ini. (aul/*)
Editor : Noor Syafaatul Udhma