JEPARA — Masyarakat Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji menggelar Festival Jondang kemarin. Itu merupakan puncak rangkaian sedekah bumi di sana.
Ada sekitar 20 buah jondang yang dipanggul keliling desa. Arak-arakan festival jondang itu sebagai wujud syukur dan bentuk gotong royong antar masyarakat.
Prosesi arak-arakan tersebut dimulai dari kompleks Balai Desa Kawak dan berakhir di Masjid Wali Desa Kawak. Jaraknya Lebih dari satu kilometer.
Warga antusias menyaksikan prosesi arak-arakan jondang tersebut. Mereka menyaksikannya dari pinggir jalan yang dilalui rombongan arak-arakan.
Puluhan jondang yang diarak itu dibawa oleh masing-masing warga di 20 RT yang ada di Desa Kawak.
”Jadi di Kawak itu ada 20 RT. Per RT harus membawa minimal 1 jondang,” papar Petinggi atau Kepala Desa Kawak Eko Heri Purwanto kemarin.
Masing-masing jondang yang dibawa isinya beragam. Ada yang berupa perabotan, makanan, juga adapula hasil bumi.
Masing-masing jondang yang dibawa tiap RT diiringi dengan karnaval yang ditunjukkan tiap RT pula.
”Untuk tahun ini temanya ketahanan pangan. Jadi tiap tahun temanya berganti. Agar tidak monoton,” imbuh Eko.
Jondang sendiri merupakan sebuah benda berbentuk persegi panjang. Panjangnya sekitar semeter dan lebar 40 hingga 50 sentimeter. Benda tersebut memiliki empat buah kaki.
Masing-masing ujungnya berlubang di atasnya agar bisa dimasuki kayu sebagai pikulan. Satu jondang biasa dipikul dua orang.
Sementara bagian tengahnya kosong. Di situlah beragam barang diletakkan.
Eko menjelaskan di zaman dahulu jondang sering dijadikan alat penyimpanan barang atau makanan. Juga dahulu jondang sering dibawa saat pria mempersunting gadis.
Namun saat ini keberadaannya mulai ditinggalkan.
Sebab itu, pihaknya mengupayakan agar melestarikan benda tersebut dalam rangkaian Festival Jondang yang rutin digelar setahun sekali.
Juga untuk memupuk kerukunan antar warga desa. (rom/war)
Editor : Ali Mustofa