JEPARA – Perkumpulan Pelestari Tosan Aji Jepara (PPTAJ) menggelar Pameran Edukasi Tosan Aji Jepara.
Ratusan Karya keris dan tombak dari berbagai daerah dipamerkan di Pendapa Kabupaten R.A Kartini Jepara kemarin.
Salah satunya ditawar hingga Rp 1,5 miliar.
Turut hadir Penjabat (Pj) Bupati yang diwakili Asisten I Sekda Jepara Ratib Zaini, Maestro Tosan Aji Nasional Empu Basuki Teguh Yuwono, Kabid Kebudayaan Jawa Tengah Eris Yunianto, Budayawan UI Jakarta Romo Donny S. Ranoewidjojo, dan jajaran Forkopimda.
Ratib Zaini mengajak masyarakat tetap menjaga seta merawat budaya supaya bisa memajukan wilayah Kabupaten Jepara.
“Kalau memang ada permintaan nanti Empu Tegalsambi dijadikan aset daerah dari rekan-rekan PPTAJ, nanti kita lihat untuk kita rapatkan dan laporkan ke Pak Bupati” pungkasnya.
Menurut sesepuh PPTAJ K.H Fadullah, acara ini sudah ditunggu oleh teman-teman PPTAJ bahwa Jepara tidak hanya dikenal sebagai kota ukir tetapi juga sebagai pembuat keris.
“Sudah sepuluh tahun teman-teman ingin mengadakan kegiatan ini untuk kemajuan Jepara, supaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir, namun juga dahulu di Jepara memiliki 2 Empu Tosan Aji yang berkarya di Tegalsambi” tuturnya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan pusaka oleh Penjabat (Pj) Bupati dalam hal ini diwakili Ratib Zaini kepada Ketua PPTAJ Ricardo.
Menurut Ricardo tujuan dari diselenggarakan acara ini salah satunya untuk mengangkat Empu lokal dan mendata keris empu Tegalsambi.
“Mengangkat Jepara ke kancah Nasional karena di empu-empu lain sudah diangkat. Kita mencoba mengumpulkan data material, garap ciri khasnya Empu Tegalsambi," ujarnya.
"Kita juga mengajak masyarakat untuk melihat bersama yang seperti apa koleksi karya Empu Tegalsambi” terangnya.
Acara yang mengangkat tema “Gaungkan Empu Jepara Punya” akan digelar selama dua hari.
Menampilkan sekitar 200 bilah keris dan ada salah satu keris yang pernah ditawar Rp1,5 miliar.
Pameran ini juga banyak dihadiri dari paguyuban Jepara, Kudus, Pati, Demak, Solo, Jogja, Bojonegoro, Ponorogo dan masih banyak lagi. (war)
Editor : Ali Mustofa