JEPARA - Menjelang lebaran, emak-emak memborong dan mengamankan stok pangan hingga dua minggu kedepan.
Gerakan pangan murah yang digelar pemerintah turut diserbu. Telur yang dijual selisih Rp 3000 dengan harga pasar tak luput diborong.
Antusiasme ini terlihat dari Gerakan Pangan Murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Pangan murah yang digelar di Balai Desa Langon Kecamatan Tahunan pada Senin pagi (1/4) ini dihadiri oleh ratusan warga sekitar.
Ada sejumlah bahan pokok yang dijual dengan subsidi pemerintah seperti beras bulog, telur wyam, minyak goreng, gula pasir dan olahan pangan lain.
Dalam kegiatan itu, telur dijual dengan harga Rp 24 ribu, lebih murah Rp 3000 dari harga pasar (Rp 27 ribu).
Banyak warga memborong telur untuk persediaan seminggu kedepan.
Sementara, beras bulog juga masih diminati dan dijual dengan harga Rp 53ribu per 5 kilogram.
Arbaina, warga asal Langon mengaku cukup terbantu dengan adanya gerakan pangan murah ini.
Ia mengaku harga telur di pasar masih sangat mahal: baru-baru ini ia membeli satu kilogram di pasar dengan harga Rp 27 ribu.
“Ini beli mi, telur, sama beras. Lumayan. Harganya lebih murah. Walaupun cuma lebih murah Rp 3000 saya tetap mau beli. Daripada beli di pasar,” jelas Arbaina.
Sementara itu warga lainnya lebih memilih memborong telur ketimbang beras.
Karena sudah mendapat bantuan sembako beras, stok di rumah masih ada.
Pj Bupati Edy Supriyanta yang hadir sekaligus zoom meeting serentak nasional di lokasi menghimbau kepada ibu -ibu untuk tidak memborong bahan pokok secara berlebihan.
Pihaknya mempersilakan kepada ibu-ibu untuk membeli secukupnya.
“Gerakan Pangan Murah ini saya buka. Monggo ibu-ibu silakan beli. Di sini berasnya dijual lebih murah, Rp 53ribu. Diluar bisa Rp 60-65 ribu,” kata Edy.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Dhiyar Susanto melalui Kepala Bidang Ketahanan Pangan Aprilia Elisiawati mengungkapkan pihaknya tidak menyediakan bawang merah dan bawang putih murah kali ini. Sebab kebanyakan petani belum panen. (nib).
Editor : Dzikrina Abdillah