JEPARA — Hasil penelitian dari tim peneliti yang dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jepara di awal tahun ini akhirnya keluar.
Hasilnya, dari penelitian serotipe yang dilakukan, banyaknya korban jiwa yang ditimbulkan dalam kasus DBD di Jepara itu lantaran disebabkan virus DBD adalah dengue 3.
Di mana, itu merupakan serotipe paling ganas bersama dengue 4.
Itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara Mudrikatun melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eko Cahyo Puspeno kemarin.
Baca Juga: Hasil Operasi Pekat Candi 2024, Polresta Pati Ungkap 319 Kasus dan Tetapkan 395 Tersangka
Baca Juga: Pemkab Kudus Gelar Pasar Murah dengan 2.000 Paket Sembako untuk Stabilkan Harga Jelang Lebaran
”Itu yang berpotensi terjadinya dengue shock syndrome (DSS), bahkan sampai meninggal," ujarnya.
"Artinya, kecurigaan kami salah satu penyebab DBD ini banyak yang meninggal, karena memang serotypenya yang ganas,” paparnya kemarin.
Pengujian serotipe virus itu diambil dari sampel darah pasien yang ada di 6 rumah sakit di Kabupaten Jepara.
Pengujian tersebut dibagi dalam dua tahap, tahap pertama, sebanyak 237 sampel, hasilnya telah keluar.
Baca Juga: Ke Mana Relokasi Warga Lima Desa di Blora Terdampak Proyek Bendung Gerak Karangnongko?
Dari jumlah tersebut, sebagian besar terjangkit serotipe dengue 3.
Selain hasil pengujian serotype, hasil penelitian lain yang telah keluar adalah penelitian tentang virologi pada nyamuk dan jentik yang berkembang biak di sejumlah wilayah di Jepara.
Pengujian itu dilakukan di Desa Pendosawalan, Kecamatan Kalinyamatan dan Bugel, Kecamatan Kedung.
Hasilnya, ditemukan virus dengue 3 itu sudah terkandung pada tubuh nyamuk.
Namun adapula serotipe jenis lain.
Di dua lokasi ini, bahkan virus DBD juga ditemukan telah terkandung pada jentik nyamuk.
”Maknanya, kalau ditemukan virus pada jentik, ini berarti saat jadi nyamuk dewasa, tanpa menggigit penderita DBD terlebih dahulu, mereka sudah membawa virus,” terang Eko.
Namun, hasil itu hanya ditemukan di dua kecamatan itu saja.
Di daerah lain, yang ikut jadi lokasi penelitian, tidak ada kasus tersebut.
Antara lain di Desa Kuwasen, Kota Jepara; lalu di Karanggondang dan Suwawal, Kecamatan Mlonggo.
”Itu tidak ditemukan pada tubuh nyamuk dan jentik-jentik,” imbuh Eko.
Saat ini, pihaknya masih menanti hasil penelitian terkait resistensi nyamuk.
Itu untuk mengetahui seberapa kebal nyamuk aides aegypti di Jepara terhadap insektisida.
Hanya saja, hasil pengujian tersebut diprediksi baru keluar usai Lebaran. (rom)
Editor : Ali Mustofa