Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Warga Jepara Lakukan Tradisi Mapak Buyuk di Pinggir Pantai, Ini Maknanya!

Nibros Hassani • Jumat, 22 Maret 2024 | 20:59 WIB
DOA: Pemerintah dan warga setempat menggelar doa di samping Buyuk/Duyuk yang telah bersandar pada sekitar 2020/2022.
DOA: Pemerintah dan warga setempat menggelar doa di samping Buyuk/Duyuk yang telah bersandar pada sekitar 2020/2022.

JEPARA – Berita munculnya duyuk atau buyuk yang lewat di pesisir Jepara sempat menghebohkan masyarakat.

Duyuk atau buyuk dianggap sebagai tanda berakhirnya musim hujan.

Oleh warga sekitar, duyuk atau buyuk yang sandar akan didoakan.

Tradisi doa ini disebut sebagai mapak buyuk/duyuk.

Pernah dilakukan oleh warga Desa Telukawur Kecamatan Tahunan pada tahun 2020/2022 saat duyuk/buyuk sandar di kawasan pantai Telukawur. 

Hal itu diungkapkan Petinggi Desa Telukawur, Rohman.

Ia mengatakan biasanya setelah buyuk/duyuk muncul dan sandar di Telukawur.

Masyarakat setempat akan berkumpul di pinggir pantai, dekat dengan buyuk/duyuk yang sandar untuk membaca tahlilan. 

“Itu bentuk penyambutan adanya duyuk/buyuk karena dulu diyakini ada kaitannya dengan Dewi Sri atau Dewi Kehidupan, Dewi Padi. Kalau sampai sandar (ada), kita adakan acara,” jelas Rohman. 

Acara doa itu juga sebagai doa atau harapan agar masyarakat terhindar dari bahaya dan wujud syukur karena musim hujan usai.

Acara berkaitan dengan datangnya duyuk/buyuk juga pernah diadakan oleh Desa Semat, Kecamatan Tahunan.

Perangkat Desa setempat, Sofa mengungkapkan puluhan tahun lalu Desa Semat Kecamatan Tahunan juga pernah menjadi tempat sandar duyuk/buyuk.

Ketika itu warga langsung mengadakan acara doa bersama sebagai bentuk selametan karena ombak laut mereda. 

“Ada disediakan bubur abang merah putih, jajanan pasar. Kalau sudah sandar biasanya dibuat mainan anak-anak (ncot-ncotan). Terus dibiarkan di pantai. Lama-lama bisa tumbuh baru lagi karena akarnya banyak. Tapi juga lama-lama alum dan akhirnya habis,” jelas Sofa.

Ia menceritakan munculnya duyuk/buyuk menjadi mitos warga setempat. Meski begitu ia meyakini, hal tersebut juga terjadi karena alasan alamiah.

Bahwa terdapat pohon di suatu pinggir laut yang karena ombak besar pohon tersebut akhirnya tercabut dari akarnya dan tergulung ombak laut hingga tiba di wilayah pesisir Jepara.

Ia meyakini pohon tersebut merupakan pohon jenis rembulung.

“Jadi mitos tapi kan kita yang punya keyakinan minta kepada Yang Maha Kuasa agar tidak ada bencana,” jelas Sofa. (nib).

Editor : Dzikrina Abdillah
#buyuk #jepara #pesisir #masyarakat #tradisi #Mapak