JEPARA - Nasabah PT BPR Jepara Artha (Perseroda) sempat digegerkan dengan isu bank tersebut bangkrut.
Sehingga terjadi penarikan simpanan nasabah yang signifikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Namun pihak direksi membantah jika bank dalam keadaan bangkrut dan memastikan kondisi keuangan aman.
Direktur Utama (Dirut) PT BPR Jepara Artha (Perseroda) Jhendik Handoko menjamin dana masyarakat yang disimpan di BPR Jepara Artha terjamin dan aman.
Masyarakat yang hendak menarik uang pada akhir tahun akan pasti diberikan.
Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran soal kondisi bank, sehingga ada 100 lebih nasabah yang menarik uangnya secara bersamaan.
Dalam empat hari terakhir, sudah ada sekitar Rp 8 miliar dana yang ditarik nasabah.
Jumlah tersebut sempat membuat nasabah lain khawatir dan ikut menarik dana, karena takut terjadi collaps.
Selain itu, ada penarikan yang tidak bisa langsung dilayani 100 persen.
“Memang ada masyarakat yang ambil banyak dana, mungkin ada 100 lebih nasabah yang narik. Semua bisa kita layani. Uangnya juga ada di bank umum," kata Jhendik.
"Tapi untuk uang yang kami simpan di kantorkan maksimal Rp 1,5 miliar. Kalau lebih dari itu bisa kena semprit OJK. Tapi tetap kami layani kok yang mau menarik dana. Rp 200-400 juta kami layani,” lanjutnya.
Ia mengatakan, rasio bank yang terpantau saat ini masih sehat. Menurutnya, penarikan besar-besaran ini juga telah menjadi siklus tahunan.
Terlebih saat akan terjadi libur akhir tahun dan Lebaran. Rata-rata penarikan biasanya mencapai Rp 8-10 miliar dalam masa-masa itu.
Meski begitu, ia mengaku, bila penarikan terus menerus dilakukan karena timbulnya kepanikan tadi, maka bisa menjadi masalah.
Karena dana milik masyarakat yang disimpan juga sudah disalurkan ke kredit.
“Mudah-mudahan cadangan likuiditas kami cukup, dan bila ada penarikan yang cukup massif tidak masalah,” jelasnya.
Ia juga tengah berfokus pada penuntasan masalah yang diperintahkan oleh OJK.
Bahwa ada masalah terhadap penyaluran kredit, ada persyaratan kredit yang belum diselesaikan.
Ia mengatakan ada 35 nasabah yang agunannya belum clear. Rata-rata agunan milik nasabah ada dua hingga tiga bidang.
Sementara, debitur yang bersangkutan berasal dari luar Jepara sehingga akses penyelesaian dengan notaris menjadikan waktu agak terhambat.
Dari skeitar 80 bidang yang berproses, 31 bidang pengikatannya sudah sempurna. Sementara lainnya masih berproses pada jual beli, balik nama. (nib/war)
Editor : Ali Mustofa