JEPARA – Patung tangan emansipasi yang dikenal masyarakat sebagai patung “Ibu Kartini” di Jalan Kartini, Jepara Kota patah.
Diduga patung lapuk apalagi sudah dibangun sejak 1976. Patung tersebut langsung mendapat perbaikan.
Diduga patung tersebut sudah patah sejak Senin (20/11) malam.
Saat wilayah Jepara diterpa hujan lebat disertai angin. Tangan kanan pada patung yang patah itu di bagian lengan atas.
Obor yang semula menghadap ke atas, kini posisinya berubah. Meski patah, pada bagian tangan tidak sampai putus.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara Ary Bachtiar mengatakan patung itu sudah lapuk karena memang ada sejak lama.
Usianya hampir 50 tahun. Patung itu dibangun sekitar tahun 1976 pada era Bupati Soewarno Djojo Mardowo.
Dibangun untuk menghormati tokoh wanita Jepara Raden Ajeng Kartini.
Pihaknya langsung memperbaiki bagian yang rusak. Biayanya sekitar Rp 2-3 juta dengan asumsi selesai 4-5 hari.
Ia mengaku memang sempat ada usulan untuk memperbesar patung tersebut, bahkan desainnya sudah ada. Namun tidak jadi terealisasi.
“Dari seniman ada yang menyampaikan tidak perlu (perbesar patung) untuk menghormati seniman yang telah membuat. Sehingga perawatan monumen saja,” kata Ary.
Ketua Dewan Kesenian Daerah Kustam mengatakan patung tersebut merupakan patung emansipasi karya salah satu maestro seni rupa Waluyo Hadi yang dimiliki Kabupaten Jepara.
Menurutnya, patung tersebut merupakan patung emansipasi, bukan patung Kartini. Patung tersebut dulunya dibuat sebagai perwujudan dari semboyan Habis Gelap Terbitlah Terang.
“Ada sosok perempuan yang membawa obor dan menghadap ke timur, itu semua ada filosofi maknanya. Tapi itu bukan patung Raden Ajeng Kartini ya. Tapi patung emansipasi,” jelas Kustam.
Pihaknya mengusulkan agar patung tersebut dipertahankan dalam segi bentuk patungnya karena menjadi bentuk apresiasi daya cipta dan intelektualitas seniman yang membuat patung.
“Bisa diperbaiki atau paling tidak mengganti bahan yang lebih kuat tapi tidak meninggalkan desain asli dari gaya tersebut. Ini menjadi identitas dan apresiasi kepada seniman di Jepara,” kata Kustam. (nib)
Editor : Ali Mustofa