Gelaran wayang ini telah dimulai sejak 21 April. Sehari setelah patung Dewa Hian Thian Siang Tee diarak. Gelaran diperkirakan selesai pada 20 Mei 2023. Warga yang ingin menonton dipersilakan. Yang ingin menonton tidak dipungut biaya.
Pada Kamis (20/4) sebanyak 31 kelenteng dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti kirab hari besar Dewa. Dewa dikirab sejauh empat kilometer. Pertunjukan liong dan barongsai telah dimulai untuk menyambut para tamu dari luar kota. Yaitu sejak Rabu (19/4). Para tamu disambut dengan pertunjukan barongsai dan liong. Lalu pada tengah malam sembahyang menyongsong Paduka Kongco.
Soal ulang tahun dewa, tidak ada yang mengetahui umur dewa secara konkret. Namun dipastikan sudah ribuan tahun. Berdasarkan kalender Imlek, ini merupakan tahun ke-2547.
Isi cerita dari wayang Potehi berlatar belakang era Kerajaan Tiongkok.
Slamet, salah satu dalang menjelaskan banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah yang dipentaskan.
“Salah satu cerita, ada seorang anak raja pada Dinasti Song. Saat itu sedang ada perluasan wilayah kerajaan. Si anak Raja ini memilih untuk membantu kerajaan dan warga sekitar. Padahal dia anak raja, anak pura mahkota. Tapi dia mau susah-susah belajar ilmu perang, sastra, dan lainnya yang bermanfaat. Dia tidak mau malas-malasan,” jelas Slamet.
Gelaran wayang ini berlangsung pada sore dan malam hari di depan klenteng Hok Tek Bio Welahan.
Joy, salah satu anak sekitar Klenteng mengaku kerap datang bersama adiknya untuk melihat wayang Potehi. Menurutnya, gelaran wayang itu seru.
“Seru aja, ke sini nonton wayang. Tahun lalu juga kesini sama adek-adek. Jarang juga lihat wayang dari kayu,” kata Joy yang duduk di bangku SMP itu. (nib) Editor : Ali Mustofa