Sebelumnya, sejumlah warga melakukan aksi protes di balai desa Rabu (5/4) lalu setelah daftar penerima bansos diketahui hilang. Ada lebih dari seribu nama yang terhapus. Merujuk keterangan petinggi, dari semula sekitar 1.190, hanya tersisa 26 nama. Sehingga, mereka yang sedianya menerima bansos akhirnya tidak menerima pada triwulan pertama ini.
Petinggi Desa Dongos Abdul Kamid mengaku prihatin atas kejadian tersebut. “Dongos ini ekonomi warganya sedang sulit, kok tega (pelakunya) itu,” jelas Abdul Kamid.
Ia menjelaskan, data tersebut selama ini dikelola oleh pihak operator desa. Namun, saat dimintai keterangan pihak operator desa tidak tahu menahu. Namun, ia menduga ada unsur kesengajaan. Sebab tidak mungkin data itu terhapus secara tidak sengaja. Apalagi untuk konfirmasi data ada tahapannya. “Kalaupun dendam, mungkin dendam ke saya karena terpilih jadi petinggi,” jelasnya.
Karena itu, pihaknya sempat melakukan teguran lisan kepada yang bersangkutan. Ada rapat internal pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dongos sebagai evaluasi juga. Selain itu, pihaknya meminta ada verifikasi ulang data penerima ke dinas sosial. “Kita berupaya memutakhirkan data lagi, mendata ulang, dan mengakses kembali situs terkait untuk pendataan,” jelasnya. (nib) Editor : Ali Mustofa