Berbeda-beda dengan acara serupa di tahun-tahun sebelumnya, pesantren yang berdiri sejak 2008 ini juga mengadakan bazar yang mengiringi acara tersebut.
Bazar tersebut memamerkan produk-produk buatan santri. Jenisnya beragam. Ada tas, kaos, karya inovatif santri, hingga karya kaligrafi. ”Karena saat ini ada Kurikulum Merdeka. Ada namanya penguatan profil pelajar Pancasila. Salah satunya itu ada karakter mengembangkan jiwa wirausaha. Mereka membuat produk yang bisa dijual,” terang Wakil Pengasuh Pesantren Zhilalur Quran Ali Mursyid.
Pesantren tersebut saat ini memiliki 1.150 santri mukim yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Saat haflah akhirussanah kemarin, seluruh walisantri dan undangan yang diperkirakan berjumlah 3000 lebih hadir memenuhi komplek pesantren Zhilalul Qur'an. ”Harapannya dengan haflah akhirussanah dan khotmil quran ini pondok pesantren bisa melahirkan hafidz hafidzoh yang terus meningkat jumlahnya tiap tahun dan ahirnya dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat berupa terciptanya generasi yang qur'ani , religius dan berprestasi sesuai dengan visi yayasan Zhilalul Qur'an” imbuh Mursyid.
Beliau juga menambahkan bahwa selama tahun pelajaran 2022-2023 telah banyak prestasi yang ditorehkan oleh santri-santri yang ada di unit - unit dibawah naungan yayasan Zhilalul Qur'an Assalam diantaranya adalah lolosnya santri pada cabang MTQ Nasional tahfidz 20 Juz di kalimantan tahun 2022 kemarin dan juga diraihnya juara umum lomba Mata Pelajaran Agama Islam dan Seni islami (MAPSI) tingkat kabupaten dua kali berturut - turut oleh SMP TAHFIDZ ZHILALUL QUR'AN.
Selain memiliki program hafalan alquran, tahun ini pesantren juga membuka program baru yaitu program baca kitab kuning cepat dengan metode Al Miftah yang bisa ikuti dengan sistem fullday school. pesantren ini juga memiliki program rutin tahunan yaitu program sosial. Salah satunya adalah pemberian bantuan sosial ke masyarakat setiap menjelang Ramadan. Tahun ini rencananya ada 450 paket sembako yang dibagikan.
Bantuan itu diperoleh dari para santri sendiri. Mereka di pesantren menjalankan program one day one coin. Tabungan itu dipecah setahun sekali dan dirupakan jadi bantuan sosial. Dengan program itu, diharapkan para santri juga memiliki kepekaan sosial agar gemar bersedekah. (rom) Editor : Ali Mustofa