Pelatihan mengukir itu dilakukan selama empat hari. Pembukaannya dilakukan pada Senin (13/3). Budi menegaskan dalam berkarya tak harus memandang fisik. ”Yang penting kemauan kita untuk mandiri, untuk usaha, dan berkarya,” tegas Budi.
Materi yang diberikan dalam pengukiran itu adalah peserta akan diarahkan untuk membuat produk yang bisa dimanfaatkan. Bisa berupa pot bunga, rak sepatu, atau lainnya. Dalam produk itu, akan diberi ornamen ukir.
Pada pelatihan tersebut, kelompok difabel mendapat alat dan praktik mengukir. Mulai dari alat bobok, bor, gergaji, juga pahat ukir. Itu atas kolaborasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara Saiful M. Abidin dengan Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinkopukmnakertrans) Jepara.
Sementara itu Saiful M. Abidin menjelaskan pelatihan ukir itu diharapkan bisa memberi semangat bagi para peserta untuk mandiri. Dengan adanya pelatihan itu, diharapkan bisa meningkatkan kompetensi sahabat difabel dalam mengukir. ”Siapapun itu dalam berkarya kalau ada semangat pasti ada jalan,” ujar sosok yang akrab disapa A' Ipunk tersebut.
Amrina Rosyida, Subkoordinator Penta PKK Lattas menambahkan, selain dibekali keterampilan juga dibekali manajemen kelompok. Agar ke depan saat berkolaborasi di dalam kelompok tidak terjadi gesekan. "Hard skill dan soft skill," tandasnya. (rom/war) Editor : Abdul Rokhim