Untuk bencana angin puting beliung yang terjadi di Desa Batealit mengakibatkan 12 rumah warga rusak. Sepuluh di antaranya karena tertimpa pohon yang tumbang. Rumah-rumah tersebut berada di RT 13, RT 14, dan RT 21. Keseluruhannya berada di RW 4 Desa Batealit.
Dari pantauan di lapangan, kerusakan yang terjadi sebagian besar pada bagian atap rumah. Ada yang hingga bagian dapurnya ambruk karena tertimpa pohon. Salah satunya adalah rumah milik Nur Asrin. ”Kejadiannya sekitar pukul 2.30 WIB,” ungkapnya.
Di bagian lain, banjir kembali merendam Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung. Kali ini ada tiga RT yang terdampak. Meliputi RT 1/RW 2, RT 2/RW 2, dan RT 3/RW 2. Padahal, banjir yang sempat merendam desa tersebut sudah sempat surut. Namun kemarin kembali meningkat. Ketinggiannya mencapai 20 hingga 30 centimeter di dalam rumah. Di jalanan, ketinggiannya sekitar 50 centimeter.
”Penyebabnya karena Sungai Kaligawe meluap. Juga Sungai Kedunggule. Dua sungai meluap,” terang Kepala Desa Sowan Kidul Ahmad Dhuri.
Air mulai naik ke pemukiman sekitar pukul 04.00 WIB. Hingga kemarin siang, ketinggian air masih meningkat. Meski begitu, warga tetap memilih bertahan di rumah masing-masing.
Sementara banjir yang terjadi di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, disebabkan karena tanggul Sungai Sungapan yang mengaliri desa tersebut jebol.
”Ada dua titik. Yang dulu pernah jebol, ditambah jebol tambahan,” terang Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso.
Tak hanya merendam rumah dan pekarangan. Banjir juga merendam jalan provinsi alternatif Jepara – Demak. Akibatnya, lalu lintasnya tersendat. Pengendara harus memutar agar tak mogok karena nekat menerjang banjir.
Disamping itu, bencana longsor juga terjadi di Dukuh Medono RT 02 RW 04 Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara pada Minggu (26/2) pagi. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun akses jalan warga terganggu.
Serma Abdul Munif, Babinsa Desa Damarwulan yang merangkap Desa Watuaji mengatakan, kejadian longsor ini terjadi di tebing jalan Gili Malang Dukuh Medono RT 02 RW 04 Desa Damarwulan, Minggu (26/2) sekitar pukul 09.50 WIB. Penyebabnya salah satunya dipicu curah hujan yang tinggi.
“Pemicunya curah hujan pada malam sampai pagi ini, membuat tanah tebing dengan ketinggian 25 meter longsor. Sedangkan lebar longsor kurang lebih 20 meter,” ujar Munif. (rom) Editor : Ali Mustofa