Air gelombang yang naik dan memecah bibir pantai terus menerus membuat tanggul tersebut tidak kuat. Akhirnya ada air laut yang merembes dari bawah. Kini bentuknya seperti genangan. Genangan air itu juga mendekati lahan yang sudah ditanami mangrove belum lama ini.
“Kami sudah membangun tanggul bersama-sama, lalu menanam pohon mangrove di sekitarnya. Tetap saja bisa bergeser. Bibir pantai ini maju lagi. Beruntung sudah ada mangrove yang ditanami. Kalau tidak, mungkin terbawa arus laut lagi. Lahan warga hilang (karena termakan ombak),” jelas Sudi, warga sekitar.
Ia menambahkan, di pantai tersebut abrasi sudah terjadi lebih dari 20 tahun. Menyebabkan lebih dari 100 hektare lahan warga yang terdampak. Sebagian sawah juga sudah tidak bisa ditanami padi.
“Karena abrasi, rata-rata dalam setahun lahan di bibir pantai bisa maju 1-2 meter. Maju karena terdorong ombak. Tapi tahun 2022 kemarin termasuk parah. Majunya bisa 10 meter,” imbuhnya.
Sudi menceritakan, meski lahan warga sudah ditanami mangrove, kedepannya ada lebih banyak bibit yang bisa ditanam. Harapannya dapat menahan abrasi tersebut.
Di lokasi, tampak juga bekas pondasi rumah milik warga. Disebutkan dulunya sekitar tahun 1970-1980 an masih ada rumah warga yang berdiri. Kini rumah tersebut sudah tidak ada. Hanya bersisa pondasinya. Lokasi tersebut kini sudah berubah menjadi laut. (nib/war) Editor : Ali Mustofa