Ziarah dipimpin Pemimpin Redaksi Radar Kudus Zainal Abidin. Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi. Juga para redaktur, kepala biro, manajer, dan karyawan Biro Jepara. Mereka duduk di depan pintu makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat. Tidak di dalam bangunan makam. Pasalnya pintu iru kondisinya terkunci.
Usai ziarah, dilanjutkan tasyakuran di kantor Biro Jepara. Kepala Biro Jepara M. Khoirul Anwar memaparkan salah satu versi sejarah perjuangan Ratu Kalinyamat bersama suaminya Sultan Hadlirin.
Dalam diskusi mengenai perjuangan Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, Khoirul Anwar mengatakan, sejarah perjuangan Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin banyak versi. Namun ada banyak nilai yang bisa diambil dari Ratu Kalinyamat seperti perjuangan menjaga wilayah, memakmurkan masyarakat, serta kegigihannya dalam memgang sebuah prinsip. ”Komitmen, dan perjuangan Ratu Kalinyamat patut kita contoh. Bagaimana mempertahankan dan membesarkan wilayah. Ini juga berlaku dan bisa dicontoh di dalam manajemen perusahaan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Radar Kudus Baehaqi menambahkan terdapat banyak versi sejarah Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Tapi yang pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah pemimpin wilayah Jepara itu. "Sejarawan pun sampai sekarang mungkin bingung, bagaimana bisa saat itu dalam kepemimpinan Ratu Kalinyamat, ada ribuan prajurit yang berani mati membantu peperangan pada abad itu. Lalu mengirim prajurit lagi pada perang berikutnya," kata Baehaqi.
Setelah berdiskusi mengenai perjuangan mengenai Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin acara dilanjut dengan potong tumpeng. M. Khoirul Anwar memberikan potongan tumpeng kepada direktur Radar Kudus Baehaqi.
“Bismillah. Harapannya Radar Kudus Biro Jepara ke depannya semakin progresif sukses dan bisa berkembang lebih baik,” ujar Anwar. (nib/war/zen) Editor : Ali Mustofa