Acara ini sebelumnya menjadi kegiatan tahunan. Namun karena pandemi, selama dua tahun parade ini tidak digelar. Parade berlangsung di dekat landmark Pantai Kartini.
Tampak di lapangan pengunjung dan warga sekitar menonton atraksi tersebut. Mereka antusias. Tak hanya warga dewasa yang meramaikan, namun juga anak-anak. Agar bisa menonton, beberapa ada yang sampai duduk di atas landmark.
Sebelum tampil, sinopsis barongan dibacakan. Misalnya saja komunitas Eko Budoyo dari Troso, Pecangaan yang menampilkan folklore tentang alas yang sangat angker di Ujung Para. Dalam alas tersebut, ada singo barong yang sangat berbahaya. Tidak ada yang berani masuk ke alas tersebut hingga akhirnya Adipati menyelenggarakan sayembara bagi warga yang bisa membuka alas tersebut. Alas akhirnya bisa dibuka oleh dua warga yang memiliki keris yang sangat ampuh.
Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Jepara Kustam berharap acara ini bisa menumbuhkan kesenangan dan kecintaan masyarakat terhadap budaya asli Jepara. Meski di daerah lain juga ada Barongan, Kustam menilai barongan Jepara memiliki folklore yang ditampilkan. Itu yang membuat barongan berbeda dengan daerah yang lain.
“Ada delapan desa yang berpartisipasi, tersebar dari berbagai daerah di Jepara. Yang ikut basisnya komunitas barongan. Yang menang selain mendapat trophy dan uang pembinaan akan kami usulkan SK-nya ke pemerintah kabupaten,” kata Kustam. (nib/mal) Editor : Ali Mustofa