Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Trisno Santosa melalui Kasi Angkutan Jalan M. Thoha menyebutkan ada beberapa faktor penyebab terus berkurangnya jumlah angkutan tersebut. Meliputi peremajaan unit kurang, ditambah masyarakat Jepara lebih memilih kendaraan pribadi atau moda transportasi praktis seperti ojek online. ”Jadi kalah sama yang online,” terangnya kemarin.
Dulunya, angkutan perkotaan (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes) masing-masing memiliki 15 trayek. Tahun 2018, total angkot beroperasi di 15 trayek ada 125 kendaraan. Dan di tahun 2019 menurun tersisa 104 kendaraan. ”Belum lama ini kami mengumpulkan para supir angkutan. Didapati jumlahnya tersisa sekitar 50 kendaraan. Itupun tidak beroperasi semuanya,” ungkap Thoha.
Angkutan yang beroperasi itu saat ini tersisa di trayek Jepara-Tahunan; Jepara-Lebak; Jepara-Mantingan, dan Jepara-Batealit. Ia menjelaskan, faktor lainnya kian termarjinalkannya angkutan tersebut karena vakumnya Kopaja. Pasalnya angkutan di Jepara, tergabung dalam suatu perusahaan atau kelompok Kopaja.
Kelompok tersebut yang mengurus segala kebutuhan angkutan. Mulai dari perijinan trayek, pengawasan dan lainnya. Supir mendaftarkan angkutannya ke kelompok tersebut. ”Itu sudah sejak sebelum pandemi terjadi, hingga saat ini vakum,” imbuh Thoha. (rom/war) Editor : Ali Mustofa