Kepala Pasar Pengkol Lilik Waluyo Yuana mengatakan bangunan pasar itu merupakan bangunan pasar yang terbersih dari pasar-pasar lain di Jepara. Berhasil direvitalisasi sekitar 2016-2017. “Masih baru dan bagus,” katanya.
“Bukan hal yang baru,” imbuhnya. Tetapi kendalanya, kata dia, memang di Jepara itu sudah terlalu kebanyakan pasar. “Dulu bangunan belum layak dan tradisional. Sudah bagus malah tidak ada pengunjungnya,” paparnya.
Dia mengatakan kebanyakan penjual sudah menutup kios dan dagangannya pada pukul 12.00. Setidaknya, ujar dia, ada 36 kios. Dan yang aktif buka hanya 15 kios saja. Itu pun kadang tidak selalu buka.
“Karena di desa-desa juga sekarang kan sudah ada penjual sayur keliling, ikan juga ada,” ucapnya.
Salah satu pedagang sembako di kios Pasar Pengkol Dasmi mengatakan dirinya sudah sejak lama jualan di pasar tersebut. “Sebelum direvitalisasi saya sudah berada di sini,” jelasnya.
Kios pasar yang bagus dan megah itu justru banyak yang tutup karena banyak pedagang yang tidak kerasan. “Karena tak ada pengunjung,” ujar Dasmi pagi itu.
Pedagang asal Desa Wonorejo itu mengatakan jika setidaknya hanya ada sekitar sepuluh pengunjung yang datang ke kiosnya. Dia juga memerhatikan, jika pembeli di pasar elit itu rata-rata orangnya sama. “Jadi setiap pagi begini kami ya hanya plonga-plongo saja,” keluhnya. Padahal, setiap bulannya ia membayar biaya kios sebanyak Rp 71 ribu. (ark/war) Editor : Ali Mustofa