Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini baratan disekitar Kriyan saja. ”Lebih banyak digelar di situs-situs Kriyan, seperti Tirto Kahuripan. Tapi ikonnya masih sama, Ratu Kalinyamat,” kata Ketua Panitia Baratan Hasyim Maliki.
Hisyam menuturkan, jadwal acara sempat berubah. Agar anak-anak di sekitar Kriyan tidak menganggap acara sebagai sekadar arak-arakan. Namun, juga ada amalan yang perlu dilakukan.
Itu juga terbukti dari susunan festival. Sebelum kirab, warga berkumpul di Masjid Al-Makmur untuk mendengarkan sambutan dan cerita soal Ratu Kalinyamatan di masa lalu sekaligus berdoa bersama.
Selain itu, rute kirab kali ini, diprioritaskan di lokasi yang berkaitan dengan Ratu Kalinyamatan. Seperti Siti Inggil, yang kata Hisyam secara arsitektural bagian paling depan dari kerajaan.
Ada sekitar 50 peserta pengiring. Biasanya sampai 1.000 pengirim yang rata-rata anak-anak. Mereka menyanyikan lagi Tong Tong Ji sambil membawa lampion. Pesertanya berasal dari berbagai daerah. Tidak hanya warga Kriyan. ”Ini untuk membuktikan Ratu Kalinyamatan milik semua masyarakat. Bukan Jepara saja,” imbuhnya.
Muhtadi Moro Teruno, penasihat di Masjid Al-Makmur menambahkan, kata baratan berasal dari bahasa Arab. Yakni ”baro’atan” artinya selamat. ”Acara ini memohon perlindungan kepada Allah, agar kita semua selamat,” ungkapnya. ”Acara ini juga untuk memelajari kisah Ratu Kalinyamat,” imbuh pria yang juga menjadi pengurus Syuriah PC NU Kriyan ini.
Dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, acara Festival Baratan ini, membuat jalan Desa Kriyan macet. Utamanya di sekitar perempatan Masjid Al-Makmur. Tampak motor saling berebut ingin mengikuti kirab.
Hanan, salah satu anak yang ikut memeriahkan acara ikut senang dengan adanya festival ini. Ia tidak takut meski digelar pada malam hari.
Acara didkhiri pada pukul 21.00. Oleh pihak yang berwajib, warga diperintahkan untuk langsung pulang. Tampak lampu sekitar masjid juga dimatikan. (nib/lin) Editor : Ali Mustofa