Mbak Rerie –sapaan akrabnya- tidak sendiri. Ia ditemani akademisi dan pengamat maritim, Connie Rahakundini Bakrie dan arkeolog Pusat Penelitian dan Arekeologi Nasional Bambang Budi Utomo. Kedatangan mereka disambut pengurus yayasan Achmad Slamet dan pengurus lainnya. Perbincangan mengenai sosok Ratu Kalinyamat berlangsung di depan pintu Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan. Tepat di depan dinding masjid yang dipenuhi ornamen ukiran.
Lestari Moerdijat mengatakan, ia bersama yayasan Darma Bakti Lestari mulai memproses pengajuan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat. Hal ini menyusul kandasnya usaha tersebut yang dilakukan pemerintah Kabupaten Jepara 2005 lalu. “Saat ini tim hukum kami di Jakarta sedang mengkaji bagimana prosedur lanjutan pengusulan pahlawan nasional yang pernah gagal,” katanya.
Namun pihaknya mengajak semua pihak, termasuk pengurus dan komunitas pegiat sejarah menggaungkan kembali Ratu kalinyamat agar mendapatkan gelar pahlawan nasional. Gagalnya pemberian gelar saat itu disinyalir karena rentetan sejarah Ratu Kalinyamat pada peristiwa terbunuhnya Arya Penangsang. Juga kontroversi pertapaan Ratu Kalinyamat yang menanggalkan busana. “Padahal itu adalah konteks politik pada zaman itu. Sedangkan menanggalkan busana artinya Ratu Kalinyamat meninggalkan gemerlap pakaian kebesaran. Bertapa dengan menggunakan pakaian layaknya rakyat biasa,” ujarnya.
Kendala tersebut, ke depan menjadi fokus kajian secara akademis supaya terungkap. Sehingga ada argumentasi yang kuat untuk menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. “Kami butuh dukungan semua pihak. Dalam waktu dekat akan kami gelar focus group discussion untuk memperkaya referesni sudut pandang sejarah Ratu Kalinyamat,” katanya.
Sementara itu Connie Rahakundini Bakrie menganggap Ratu Kalinyamat pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional. Pasalnya pemikiran penguatan poros maritim saat itu sudah dipikirkan Ratu Kalinyamat. Sosok penguasa perempuan yang visioner pada masanya. “Bahkan saat menyerang Portugis melibatkan ribuan kapal. Artinya perannya dalam menyatukan nusantara ini juga besar. Berlayar dari Jepara sampai Selat Malaka,” tuturnya.
Pengurus yayasan, Achmad Slamet yang juga akademisi ini menyambut baik gagasan kembali mengajukan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. Tinggal semua unsur yang mendukung gerakan ini bersatu memperjuangkan gelar tersebut. “Sudah saatnya Ratu Kalinyamat diberi gelar pahlawan nasional. Sudah tidak diragukan lagi. Tinggal kekurangan pengajuan sebelumnya disempurnakan,” paparnya.
Usai berdiskusi, rombongan bersama pengurus yayasan setempat berziarah ke makam Sultan hadlirin dan Ratu Kalinyamat. (zen) Editor : Ali Mustofa