Dugaan Keracunan MBG Batang Meluas, 498 Orang Diperiksa dan 159 Dirujuk

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 10:46 WIB
Ilustrasi keracunan makanan
Ilustrasi keracunan makanan

BATANG - Jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi SPPG Bawang, Kabupaten Batang, terus bertambah.

Hingga Kamis malam (24/9/2026), tercatat sebanyak 498 orang telah menjalani pemeriksaan setelah diduga terdampak insiden tersebut.

Wakil Bupati Batang Suyono turun langsung memantau kondisi para korban.

Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP), terutama terkait keamanan dan pengolahan makanan.

Suyono menyebut dari 498 orang yang telah diperiksa, sebanyak 159 orang harus mendapatkan rujukan, 319 orang menjalani rawat jalan, sedangkan 20 pasien menjalani perawatan di Puskesmas Bawang.

Data tersebut disampaikan Suyono ketika mengecek kondisi korban di RSUD Batang pada Jumat (25/9/2026).

Menurut informasi yang diterimanya hingga Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB, jumlah pasien yang mendapatkan pemeriksaan telah mencapai ratusan orang.

“Perkembangan pagi ini, saya belum dapat laporan dari Kapus Bawang. Tapi tadi malam saya sudah di-update sampai jam 21.30, terperiksa itu 498, dirujuk 159, rawat jalan 319, rawat inap Puskesmas Bawang 20,” kata Suyono.

Kondisi tersebut sempat membuat sejumlah fasilitas kesehatan di Batang harus menambah kapasitas pelayanan. Sebagian pasien bahkan tidak mendapatkan tempat di kamar perawatan sehingga harus ditempatkan di area lorong puskesmas maupun rumah sakit.

Selain Puskesmas Bawang, RSUD Batang juga menangani pasien yang terdampak. Suyono menyebut terdapat 90 orang yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Dari jumlah itu, 28 pasien telah diperbolehkan pulang sehingga masih terdapat 62 orang yang menjalani perawatan saat pengecekan dilakukan.

Suyono bersyukur tidak ada korban yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Penanganan medis juga terus dilakukan dengan dukungan tambahan tempat tidur serta bantuan dari BPBD dan PMI.

“Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, semuanya teratasi dengan baik. Meskipun harus menambah bed-bed yang ada, ditambah dari BPBD yang membantu dan PMI,” ujarnya.

Suyono menyayangkan terjadinya insiden tersebut karena MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintah. Ia meminta seluruh SPPG di Kabupaten Batang lebih disiplin dalam menjalankan prosedur keamanan pangan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Saya ikut prihatin. Tapi ini jangan sampai terulang lagi. SPPG-SPPG yang ada di Batang khususnya harus memperhatikan SOP,” tegasnya.

Ia juga menyoroti proses pengolahan makanan, termasuk penggunaan bahan tambahan pada menu yang dinilai perlu dikontrol dengan baik. Untuk menu telur, Suyono mengusulkan agar pengolahannya dibuat lebih sederhana guna mengurangi potensi masalah dalam proses penyajian.

“Saya sudah telepon Korwil. Kalau di Kabupaten Batang, SPPG, telur cukup direbus atau digoreng mata sapi saja. Tidak usah ada tambahan bumbu,” katanya.

Suyono juga mengingatkan penyelenggara agar tidak mengurangi porsi makanan yang menjadi hak penerima manfaat. Ia menilai seluruh ketentuan dalam penyediaan makanan harus dipatuhi, termasuk takaran dan standar porsi yang telah ditetapkan.

Editor : Ali Mustofa
keracunan MBG Batang SPPG Bawang berita Batang MBG Batang Makan Bergizi Gratis