Dugaan Keracunan MBG di Batang Jadi Sorotan, Waktu Pengolahan Makanan Dipersoalkan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 10:36 WIB
SIDAK: Bupati Batang bersama BGN saat sidak di SPPG Bawang.
SIDAK: Bupati Batang bersama BGN saat sidak di SPPG Bawang.

BATANG - Kasus dugaan keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah.

Hingga Kamis (24/9/2026) siang, tercatat 411 orang mengalami keluhan, sementara 170 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas.

Hal yang menjadi perhatian, sebagian besar korban merupakan orang dewasa. Dari total tersebut, sebanyak 220 orang tua ikut mengalami gejala setelah mencicipi makanan MBG yang diterima anak-anak mereka.

Salah satu korban bahkan diketahui merupakan relawan yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pemeriksaan langsung ke dapur SPPG Bawang, yang menjadi pihak pengelola penyediaan menu MBG bagi para penerima manfaat.

Faiz menyampaikan keprihatinannya atas banyaknya warga yang mengalami gangguan kesehatan.

Ia menegaskan bahwa penanganan korban menjadi perhatian utama pemerintah daerah, bersamaan dengan upaya mencari penyebab kejadian dan mencegah kasus serupa terulang.

Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi prioritas pemerintah, yakni memastikan penyebab kejadian dapat diketahui, memastikan seluruh korban memperoleh penanganan medis yang layak, serta melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Kita dalam posisi tidak mencari siapa yang salah atau benar, dan bukan mencari skor politik dalam kondisi kedudukan ini. Prioritas kita ada tiga: memastikan penyebab pasti kejadian, memastikan seluruh korban ditangani dengan layak, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali," tegas Faiz usai sidak.

Dalam pemeriksaan terhadap dapur SPPG Bawang, tim gabungan menemukan sejumlah hal yang dinilai tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Salah satu temuan berkaitan dengan waktu dimulainya proses pengolahan makanan.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang BGN, Hadi Riajaya, mengatakan hasil pemeriksaan rekaman CCTV menunjukkan aktivitas pengolahan makanan telah dimulai sekitar pukul 19.30 WIB.

Padahal, berdasarkan ketentuan yang disampaikan BGN, proses pengolahan makanan seharusnya baru dilakukan setelah pukul 02.00 WIB.

"Melalui pengecekan CCTV, kami melihat adanya pengolahan makanan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB malam. Padahal dalam SOP, pengolahan makanan seharusnya baru boleh dilakukan setelah pukul 02.00 dini hari," ungkapnya.

Selain persoalan waktu pengolahan, petugas juga menemukan beberapa kondisi fasilitas dapur yang belum sesuai standar.

Di antaranya terdapat sekat bangunan yang dinilai belum kokoh serta sistem pengelolaan limbah yang masih memerlukan pembenahan dari sisi sanitasi.

Atas temuan tersebut, BGN mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasional dapur SPPG Bawang selama 30 hari.

Hasil pemeriksaan selanjutnya akan dievaluasi oleh BGN pusat dan dapat menjadi dasar untuk menentukan keberlanjutan operasional dapur tersebut.

Pemerintah Kabupaten Batang menyatakan seluruh biaya pengobatan korban yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas akan ditanggung pemerintah daerah.

Selain biaya medis, Pemkab Batang melalui Dinas Sosial juga menyiapkan bantuan bagi keluarga yang harus menemani anggota keluarganya menjalani perawatan sehingga tidak dapat bekerja.

Besaran bantuan yang disiapkan sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari untuk setiap kepala keluarga.

"Kami berikan santunan untuk penunggu pasien sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari per KK. Kita ingin semua korban tertangani dengan cepat dan keluarga yang tidak bisa bekerja mendapat pengganti," jelas Bupati Batang.

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu meringankan beban keluarga yang terdampak selama proses penanganan medis berlangsung.

Lonjakan jumlah korban membuat sejumlah fasilitas kesehatan di Batang harus meningkatkan kesiapsiagaan.

Salah satunya RSUD Kalisari yang menerima banyak pasien dalam waktu bersamaan.

Keterbatasan ruang perawatan bahkan membuat sebagian pasien harus mendapatkan penanganan di area lorong rumah sakit.

Meski demikian, pemerintah daerah menyatakan pelayanan medis tetap diupayakan berjalan maksimal.

Sejumlah fasilitas kesehatan lain juga disiapkan untuk menangani pasien, termasuk RSUD Limpung dan beberapa puskesmas.

Tenaga medis diminta berada dalam kondisi siaga untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien. Armada ambulans juga dipersiapkan untuk mendukung proses rujukan dan penanganan korban.

Keluhan yang dilaporkan korban cukup beragam, tetapi mayoritas berupa mual, muntah, diare, pusing, dan tubuh terasa lemas.

Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa dan lanjut usia.

Bupati Batang juga menegaskan bahwa hingga saat laporan tersebut disampaikan, tidak ada korban yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Meski muncul dugaan bahwa makanan tertentu, termasuk menu telur, berkaitan dengan kejadian tersebut, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga masih belum dapat dipastikan.

Pemeriksaan laboratorium masih dilakukan untuk mengetahui sumber kontaminasi maupun faktor lain yang mungkin menyebabkan munculnya gejala pada para korban.

Karena itu, pihak berwenang masih menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyimpulkan penyebab kejadian.

BGN juga menyampaikan bahwa evaluasi dan pemantauan akan dilakukan terhadap dapur SPPG yang sudah beroperasi.

Sementara itu, pembentukan dapur SPPG baru untuk sementara dimoratorium agar perhatian dapat difokuskan pada evaluasi serta penguatan standar dapur yang telah berjalan.

Sekolah maupun Posyandu yang merasa khawatir dan memilih menghentikan sementara penerimaan makanan MBG juga disebut tidak akan dipaksa untuk menerima distribusi selama proses evaluasi berlangsung.

Pengelola SPPG Bawang bersama Yayasan Bela Batang Sejahtera menyampaikan permohonan maaf kepada anak-anak penerima manfaat dan keluarga yang terdampak.

Kepala SPPG Bawang, Agung Dindi Santoso, memastikan operasional dapur dihentikan sementara.

Evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses memasak hingga kinerja relawan.

"Kita akan evaluasi total atas kejadian ini, entah itu dari bahan bakunya, proses memasaknya, ataupun dari para relawan," ujar Agung.

Dapur SPPG Bawang sendiri disebut melayani sekitar 2.595 penerima manfaat.

Pengelola juga menyatakan siap bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan korban yang terdampak.

Sementara itu, pengurus Yayasan Bela Batang Sejahtera, Tutut Wahyuningsih, mengatakan menu yang dibagikan saat kejadian terdiri dari nasi putih, telur saus asam manis, tahu goreng, cah sayur atau caisim, serta buah anggur.

Menurutnya, menu tersebut sebelumnya sudah pernah disajikan sebanyak dua kali dengan prosedur yang sama dan tidak menimbulkan persoalan.

Namun, pihak pengelola menyatakan tetap akan melakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian proses untuk mengetahui penyebab kejadian.

Dampak dugaan keracunan tersebut bahkan dirasakan oleh pihak internal dapur.

Seorang petugas kebersihan di SPPG Bawang dilaporkan turut mendapatkan perawatan setelah mengonsumsi sisa makanan dari menu MBG.

Hingga proses investigasi selesai, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi dari pihak berwenang.

Editor : Ali Mustofa
keracunan MBG Batang SPPG Bawang dugaan keracunan makanan berita Batang Makan Bergizi Gratis