Usai Bertanding, Kafilah MTQ Nasional Diajak Menikmati Wisata Kandri

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 07:11 WIB
CERIA:  Para kafilah dari berbagai daerah juga mendapat kesempatan melepas penat dengan menikmati sejumlah destinasi wisata di Kota Semarang.
CERIA: Para kafilah dari berbagai daerah juga mendapat kesempatan melepas penat dengan menikmati sejumlah destinasi wisata di Kota Semarang.

SEMARANG – Rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah tidak hanya berisi agenda perlombaan. Para kafilah dari berbagai daerah juga mendapat kesempatan melepas penat dengan menikmati sejumlah destinasi wisata di Kota Semarang.

Salah satunya melalui kegiatan wisata di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati. Di kawasan Omah Alas, puluhan kafilah diajak mengenal permainan tradisional sekaligus mencoba jemparingan atau panahan tradisional.

Aktivitas tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi para peserta setelah menjalani rangkaian perlombaan yang cukup padat.

Kafilah asal Sulawesi Tenggara, La Ode Adam, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Setelah bertanding dalam cabang tafsir bahasa Arab, dia mendapat pengalaman baru dengan mencoba sejumlah permainan tradisional, termasuk egrang dan jemparingan.

“Senang, setelah berlomba tafsir bahasa Arab. Tadi coba egrang, panah tradisional yang harus duduk. Pokoknya Semarang menyala,” ucapnya, Rabu (16/9/2026).

Pengalaman serupa dirasakan Reza, kafilah asal DI Yogyakarta. Menurutnya, kegiatan wisata menjadi kesempatan untuk mengurangi ketegangan setelah mengikuti perlombaan.

Selain berkeliling Kota Semarang, dia juga baru pertama kali mencoba egrang dan jemparingan.

“Iya pasti senang dong setelah melewati berbagai perlombaan, terus ketegangan. Setelah itu kita diajak untuk happy-happy, diajak berkeliling Kota Semarang. Enggak expect, ternyata ada program ini gitu, jadi kita senang. Luar biasa,” tuturnya.

City Tour Leader Disbudpar Kota Semarang, Suhono, menjelaskan, terdapat tiga pilihan program wisata yang disiapkan bagi para kafilah. Yakni Kafilah Mubeng-Mubeng Kota Semarang, Kafilah Dolan Neng Desa Wisata Ramah Muslim, serta Heritage Tour Kota Semarang.

Melalui program tersebut, para peserta tidak hanya diajak berwisata, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai potensi destinasi yang ada di Kota Semarang.

“Tujuannya adalah mengenalkan potensi yang ada di Omah Alas Desa Wisata Kandri, supaya dikenal oleh masyarakat luas di luar Jawa Tengah. Habis ini kita ke Goa Kreo untuk mengenalkan objek wisata alam yang ada di sana, sekaligus jejak digital religi dari Sunan Kalijaga,” jelasnya.

Suhono berharap pengalaman yang diperoleh para kafilah selama mengikuti city tour dapat menjadi bagian dari promosi wisata Jawa Tengah ketika mereka kembali ke daerah masing-masing.

“Jadi dengan promosi ini, secara tidak langsung dari beberapa provinsi di luar Jawa Tengah itu akan mengenal, keramah-tamahan Desa Wisata Kandri,” imbuhnya.

Kegiatan wisata tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan MTQ Nasional XXXI 2026 sebagai momentum untuk memperkenalkan destinasi wisata di Jawa Tengah. Selain promosi pariwisata, keberadaan ribuan peserta dan pengunjung selama gelaran MTQ juga diharapkan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi daerah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyebut potensi perputaran ekonomi selama pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026 diperkirakan dapat mencapai Rp1,2 triliun.

Potensi tersebut terlihat dari aktivitas transaksi dalam Pameran Serambi Nusantara di kawasan Simpang Lima. Dalam kegiatan tersebut, perkiraan transaksi harian mencapai sekitar Rp500 juta.

Pameran itu melibatkan sekitar 150 stan yang terdiri atas perwakilan dari 24 provinsi, 70 stan kabupaten/kota, 12 stan kementerian, serta berbagai stan kuliner, mitra, dan stan mandiri.

Dampak ekonomi juga tidak hanya berasal dari aktivitas pameran. Gelaran MTQ turut menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti transportasi, perhotelan, restoran, hingga usaha kuliner lokal. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
taj yasin MTQ xxxi wisata Ahmad Luthfi