SEMARANG — Warga di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mulai merasakan pengaruh nyata dari musim kemarau tahun 2026.
Sumur-sumur milik warga mulai kering, pasokan air harian semakin sedikit, dan beberapa warga terpaksa membeli air galon untuk keperluan mandi dan mencuci.
Kekeringan di Meteseh terjadi bersamaan dengan puncak musim kemarau yang diprediksi oleh BMKG akan berlangsung hingga bulan September 2026.
Wilayah tersebut termasuk dalam daftar area yang berisiko mengalami kekeringan di Kota Semarang, bersama dengan beberapa kelurahan lainnya di Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik.
Baca Juga: Semarang Incar Lonjakan Kunjungan Wisatawan hingga 9,46 Juta di Tahun 2027
Di lapangan, kondisi ini terlihat dari antrean warga yang mendatangi rumah dengan jeriken, ember, dan galon kosong untuk menampung air yang dibawa oleh mobil tangki bantuan.
Beberapa warga mengatakan bahwa mereka harus membeli air galon karena sumur mereka kini tidak bisa memberi air yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang memprioritaskan pengaliran air bersih ke Meteseh.
Baca Juga: Xenia di Semarang Ludes Terbakar, Ini Dugaan Penyebabnya
Pada tanggal 18 Agustus 2026, BPBD mengirimkan satu tangki air dengan kapasitas 5.000 liter ke RT 7 RW 10 di Meteseh. Bantuan itu diberikan kepada 36 kepala keluarga yang terkena dampak kekeringan.
Hingga pertengahan Agustus 2026, BPBD Kota Semarang sudah memberikan sekitar 48 ribu liter air ke berbagai daerah yang terkena dampak, termasuk wilayah Meteseh.
Warga yang membutuhkan bantuan air bersih bisa meminta bantuan melalui rt setempat, kelurahan, atau langsung menghubungi pusat panggilan 112.
Baca Juga: Parkir Liar di Semarang Ditertibkan, Dishub Tempel Stiker Peringatan
Sementara itu, BMKG sebelumnya sudah menambahkan Kota Semarang ke dalam daftar daerah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis.
Masyarakat diminta untuk mulai menghemat penggunaan air bersih sejak bulan Juli 2026 sebagai persiapan menghadapi masa kemarau yang paling parah.
Kekeringan di Meteseh menunjukkan dengan jelas efek dari musim kemarau 2026 di daerah perkotaan Semarang.
Dengan status siaga darurat karena kekeringan yang ditetapkan pemerintah daerah, pemberian air bersih melalui metode dropping tangki menjadi solusi sementara hingga curah hujan kembali stabil.
Warga Meteseh diingatkan untuk tetap menghemat air dan memanfaatkan bantuan yang sudah disediakan melalui jalur resmi.
Kerja sama antara warga, kelurahan, dan BPBD sangat penting agar kebutuhan air bersih bisa terpenuhi selama musim kemarau.
Editor : Anita Fitriani