Dari Desa Miskin, Kepyar Jadi Model Baru Pengentasan Kemiskinan Jateng

Admin • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:57 WIB
IDE BARU: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menjadikan Desa Kepyar, Kabupaten Wonogiri, sebagai salah satu percontohan baru dalam pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal. Desa berpenduduk sekitar 4.400 jiwa itu mendapat pendampingan lintas sektor melalui pendekatan Project Based Learning (PBL).
IDE BARU: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menjadikan Desa Kepyar, Kabupaten Wonogiri, sebagai salah satu percontohan baru dalam pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal. Desa berpenduduk sekitar 4.400 jiwa itu mendapat pendampingan lintas sektor melalui pendekatan Project Based Learning (PBL).

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadikan Desa Kepyar, Kabupaten Wonogiri, sebagai salah satu percontohan baru dalam pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal. Desa berpenduduk sekitar 4.400 jiwa itu mendapat pendampingan lintas sektor melalui pendekatan Project Based Learning (PBL).

Program tersebut dirancang agar penanganan kemiskinan tidak berhenti pada pemberian bantuan. Warga didorong memiliki sumber penghasilan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mampu membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.

Program Desa Dampingan yang digagas Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jateng itu melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, badan usaha milik daerah (BUMD), perangkat daerah, hingga masyarakat. Kepyar dipilih sebagai lokus untuk menguji pola penanganan kemiskinan yang lebih terintegrasi sesuai kebutuhan dan potensi desa.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mendorong desa-desa miskin agar mampu berkembang dan memiliki daya saing.

“Ini merupakan kebersamaan atau kolaborasi yang diberikan pemerintah, Pak Rektor, dan beberapa universitas. Kita keroyok desa-desa yang kategori miskin. Harapannya, desa-desa itu bisa naik kelas, tidak miskin lagi, dan mampu bersaing dengan desa lain,” kata Ahmad Luthfi di Semarang, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurut dia, upaya mengurangi kemiskinan tidak cukup hanya melalui intervensi ekonomi. Pendidikan sebagai bagian dari layanan dasar harus diperkuat karena kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu penentu agar masyarakat dapat keluar dari kemiskinan secara permanen.

“Pengentasan kemiskinan itu basisnya adalah layanan dasar yaitu pendidikan. Saya berharap terobosan kreatif ini bisa mereduksi jumlah desa termiskin di tempat kita,” ujarnya.

Sebagian besar masyarakat Kepyar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Sebagian lainnya bekerja sebagai buruh tani. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan ekonomi desa dengan memaksimalkan potensi yang telah dimiliki masyarakat.

Kepyar memiliki sekitar 596 hektare lahan pertanian, delapan kelompok tani, 12 UMKM, serta 15 pedagang mikro. Berbagai potensi itu akan dikembangkan untuk memperluas sumber pendapatan, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Pendampingan tidak hanya menyasar sektor ekonomi. Berbagai persoalan dasar seperti pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, rumah tidak layak huni, sanitasi, literasi, hingga inklusi keuangan juga menjadi bagian dari program.

Pendekatan tersebut menempatkan kemiskinan sebagai persoalan multidimensi. Rendahnya pendapatan berkaitan erat dengan akses pendidikan, kesehatan, kondisi tempat tinggal, kesempatan ekonomi, serta kemampuan masyarakat dalam mengembangkan usaha.

Di sisi lain, Kepyar memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi penggerak ekonomi baru. Di antaranya agrowisata semangka dan melon, river tubing, Air Terjun Sanginan, serta Watu Lumbung.

Pengembangan wisata diarahkan tidak hanya untuk membangun dan memperkenalkan destinasi. Warga sekitar juga diharapkan mendapatkan manfaat ekonomi melalui usaha kuliner, perdagangan, jasa, pengelolaan wisata, hingga pengembangan produk UMKM.

Sektor pertanian pun akan diperkuat melalui pendampingan dan pengembangan komoditas potensial. Pelaku UMKM serta pedagang mikro akan mendapat penguatan kapasitas agar usaha mereka dapat tumbuh dan memberikan penghasilan yang lebih stabil.

Pola tersebut menandai pergeseran pendekatan dari sekadar bantuan menuju pemberdayaan. Bantuan tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi masyarakat juga dipersiapkan agar mampu menciptakan penghasilan secara mandiri.

“Tentu perlu kebersamaan antara universitas, masyarakat, BUMD, dan dinas terkait untuk ikut turun sehingga masyarakat lebih berdaya dan tidak kembali miskin,” kata Luthfi.

Pemprov Jateng berharap Kepyar dapat menjadi contoh bahwa pengentasan kemiskinan bisa dilakukan melalui satu gerakan yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, layanan dasar, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan potensi lokal.

Jika memberikan hasil yang nyata, pola pendampingan di Kepyar akan menjadi salah satu model yang dapat diterapkan di desa-desa lain di Jawa Tengah.

Target akhirnya bukan sekadar menurunkan angka kemiskinan. Lebih dari itu, masyarakat diharapkan mampu naik kelas, semakin berdaya, memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan, dan tidak kembali terjebak dalam kemiskinan. (*)

Editor : Admin
jateng pbl desa