Dari Pesantren ke Kedokteran Gigi, Beasiswa Jateng Buka Jalan Cita-Cita Aqila

Admin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:16 WIB
Aqila Keisha Haulina
Aqila Keisha Haulina

SEMARANG — Cita-cita menjadi dokter gigi yang sempat terbentur persoalan biaya kini semakin dekat bagi Aqila Keisha Haulina. Santri asal Kudus itu berhasil melanjutkan pendidikan di Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) setelah memperoleh beasiswa dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Bagi Aqila, beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren 2026 bukan hanya bantuan pembiayaan pendidikan. Program tersebut menjadi jalan untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi santri sekaligus mendorong mereka mengembangkan kompetensi di berbagai bidang keilmuan.

Perjalanan pendidikan Aqila tidak lepas dari lingkungan pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu'ul Qur'an 2 Muria, kemudian melanjutkan ke MA Mu'allimat NU Kudus. Setelah lulus, keinginannya untuk kuliah di bidang kedokteran gigi menghadapi persoalan biaya UKT yang cukup besar.

Harapan itu kembali terbuka ketika Pemprov Jateng membuka program beasiswa khusus santri. Aqila mengikuti serangkaian tahapan seleksi, mulai dari administrasi, kemampuan membaca kitab, hafalan Al-Qur'an, wawasan kebangsaan hingga wawasan kepesantrenan. Ia akhirnya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa.

Bantuan tersebut membuat beban pembiayaan pendidikan yang harus ditanggung keluarganya menjadi lebih ringan. Di sisi lain, Aqila bisa mengejar cita-cita yang sudah ia bangun sejak kecil.

Sejak kecil, ia memang bercita-cita bekerja di bidang kesehatan. Kelak, Aqila ingin menjadi dokter gigi yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga menjadikan nilai agama dan kemanusiaan sebagai bagian dari pengabdiannya.

SINERGI: Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 serta Penandatanganan Naskah Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Ma
SINERGI: Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 serta Penandatanganan Naskah Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Ma'had Aly di Gedung Merah Putih Semarang, Rabu, 12 Agustus 2026.

 "Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan," ujarnya saat acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 serta Penandatanganan Naskah Kerja Sama Pemprov Jateng dengan Ma'had Aly di Gedung Merah Putih Semarang, Rabu (12/8).

Aqila mengapresiasi perhatian Pemprov Jateng terhadap pendidikan santri. Menurutnya, program tersebut perlu terus dikembangkan agar semakin banyak santri memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

Ia berharap cakupan jurusan diperluas dan jumlah penerima beasiswa ditambah pada tahun-tahun mendatang.

Tidak hanya mengejar pendidikan untuk kepentingan pribadi, Aqila juga telah memiliki rencana setelah menyelesaikan studinya. Ia ingin mengabdikan ilmu yang diperoleh di Pondok Pesantren El Fat El Islami Kudus.

Ia pun mengajak para santri di Indonesia untuk tidak membatasi mimpi hanya karena latar belakang pendidikan pesantren.

"Jangan takut memiliki cita-cita tinggi. Santri juga bisa berkiprah dan berprestasi di berbagai bidang," pesannya.

Kisah serupa datang dari penerima beasiswa lainnya, Akhmad Khafidz Al Mubarok. Ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan S1 bidang saintek di Dalian University of Technology, China.

Bagi Khafidz, kesempatan tersebut menjadi langkah penting untuk memperdalam bidang yang telah diminatinya sejak kecil sekaligus membuka peluang meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

"Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Saya memilih Computer Science and Technology karena sejak kecil sudah tertarik dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi, yaitu China," katanya.

Program beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Melalui program yang disalurkan lewat Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) itu, Pemprov Jateng memberikan dukungan pendidikan untuk jenjang S1, S2, hingga S3, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Total hibah beasiswa yang dialokasikan pada 2026 mencapai Rp8,34 miliar. Sebanyak 73 orang menerima manfaat program tersebut, terdiri atas 15 penerima beasiswa luar negeri, 27 santri penerima beasiswa perguruan tinggi dalam negeri, serta 31 pengasuh pesantren yang memperoleh beasiswa dalam negeri.

Untuk penerima luar negeri, rinciannya yakni tiga santri bidang saintek ke China, delapan santri ke Mesir yang terdiri atas satu penerima bidang kedokteran Al-Azhar dan tujuh bidang keislaman Al-Azhar, tiga santri ke Al-Ahqof Yaman, serta satu penerima program double degree.

Pemprov Jateng menempatkan program tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas kapasitas santri. Pendidikan pesantren tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga dipadukan dengan kompetensi modern seperti kedokteran, teknologi, sains, dan bidang profesional lainnya.

Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemberian beasiswa kepada santri memiliki nilai strategis karena mereka mempunyai bekal pendidikan agama sekaligus kesempatan memperkuat kompetensi akademik.

"Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri," kata Luthfi.

Menurut dia, program beasiswa santri dan pengasuh pesantren perlu terus diperluas. Ia juga mendorong pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah ikut mengambil peran agar pengembangan sumber daya manusia pesantren tidak hanya bergantung pada pemerintah provinsi.

"Program ini harus dijadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan, sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh," ujarnya.

Dalam agenda tersebut, Pemprov Jateng juga menandatangani nota kesepahaman dengan 24 Ma'had Aly atau lembaga pendidikan tinggi yang berada di lingkungan pondok pesantren.

Melalui kolaborasi tersebut, penguatan pendidikan pesantren diharapkan tidak berhenti pada pemberian beasiswa, tetapi berlanjut menjadi ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan santri dengan kompetensi keagamaan, akademik, dan profesional yang semakin kuat.

Editor : Admin
aqila Santri beasiswa