JEPARA — Suara alat berat mulai memecah aktivitas warga di sejumlah ruas jalan provinsi di Kabupaten Jepara. Aspal yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan pengguna jalan kini mulai dibongkar. Perbaikan jalan yang dinanti masyarakat akhirnya memasuki tahap pengerjaan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan anggaran sekitar Rp29 miliar untuk membenahi sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Jepara. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di ruas Jepara–Kelet, tepatnya di Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo.
Di lokasi tersebut, kondisi jalan yang sebelumnya berlubang dan bergelombang mulai ditangani. Alat berat telah diturunkan. Sejumlah pekerja terlihat melakukan pembongkaran dan menyiapkan badan jalan sebelum masuk ke tahap konstruksi berikutnya.
Perbaikan ini menjadi kabar baik bagi warga yang setiap hari menggantungkan mobilitasnya pada jalur tersebut. Selama bertahun-tahun, kerusakan jalan tak sekadar mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Lubang yang tertutup genangan air saat hujan menjadi salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan. Pengendara harus lebih berhati-hati, terutama ketika melintas pada malam hari atau saat jarak pandang terbatas.
Anggaran Rp29 miliar tersebut tidak hanya diarahkan untuk satu ruas jalan. Pemerintah provinsi membaginya ke dalam tiga pekerjaan strategis.
Pertama, pembetonan ruas Sekuro, Kecamatan Mlonggo, yang merupakan bagian dari jalur Jepara–Kelet dan memiliki aktivitas lalu lintas cukup tinggi.
Kedua, pembetonan ruas perbatasan Jepara–Pati di wilayah Kecamatan Keling. Jalur ini memiliki fungsi penting sebagai penghubung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi antarwilayah.
Ketiga, rehabilitasi Jembatan Slentreng di wilayah Bangsri yang menjadi bagian penting dari jaringan infrastruktur jalan provinsi di Jepara.
Pengerjaan dilakukan secara bertahap. Di Sekuro, pekerjaan awal diarahkan pada pembenahan dan penguatan badan jalan sebelum dilakukan pembetonan atau rigid pavement. Metode ini diharapkan membuat konstruksi jalan lebih kuat dan memiliki umur layanan lebih panjang.
Dimulainya proyek juga membawa konsekuensi sementara bagi pengguna jalan.
Pengerjaan yang dilakukan pada sebagian badan jalan membuat ruang kendaraan menyempit. Sepeda motor maupun mobil harus melintas secara bergantian. Pada jam-jam sibuk, terutama pagi hari, antrean kendaraan berpotensi terjadi.
Debu material konstruksi pun sesekali beterbangan di sekitar lokasi. Namun, kondisi lalu lintas masih relatif terkendali. Rambu peringatan dan barikade keselamatan telah dipasang untuk mengarahkan pengguna jalan sekaligus menjaga keamanan pekerja.
Di tengah aktivitas proyek, deretan bendera Merah Putih yang terpasang di sepanjang permukiman warga membuat suasana kawasan semakin semarak.
Pekerjaan perbaikan juga mulai terlihat di ruas Nalumsari–Mayong–Kudus.
Tepat di depan Polsek Nalumsari, beberapa pekerja terlihat mulai membongkar bagian aspal yang mengalami kerusakan. Sejumlah peralatan dan alat berat telah disiapkan di lokasi sebagai bagian dari persiapan pekerjaan.
Aktivitas tersebut menjadi tanda bahwa perbaikan ruas jalan yang selama ini menjadi jalur penting bagi masyarakat Nalumsari, Mayong hingga Kudus segera dimulai.
Bagi warga, kehadiran alat berat bukan sekadar pemandangan proyek. Itu menjadi simbol bahwa jalan yang selama ini dikeluhkan akhirnya mendapat perhatian dan segera dibenahi.
Harapan masyarakat kini sederhana: pekerjaan berjalan lancar, kualitas konstruksi benar-benar baik, dan proyek dapat selesai sesuai target.
Sebab, bagi pengguna jalan, jalan yang mulus bukan sekadar soal kenyamanan. Di baliknya ada mobilitas warga, distribusi barang, aktivitas ekonomi, hingga keselamatan setiap orang yang melintas.
Karena itu, selama proses pengerjaan berlangsung, pengguna jalan diimbau mengurangi kecepatan, meningkatkan kewaspadaan, serta bersabar ketika terjadi penyempitan atau antrean kendaraan.
Jalan boleh dibongkar untuk diperbaiki. Tetapi harapan warga jangan sampai ikut terhambat.
Editor : Admin