Lahan Tidur Dibangunkan, Revola Dibidik Masuk 35 Daerah

Admin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:11 WIB
TINJAU TERNAK KAMBING: Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan memasang target lebih besar: Revola direplikasi di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
TINJAU TERNAK KAMBING: Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan memasang target lebih besar: Revola direplikasi di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

BANJARNEGARA – Lahan tidur di Jawa Tengah tak boleh terus “nyenyak”. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menggeber Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis untuk mengubah lahan mangkrak menjadi sumber pangan, lapangan kerja, sekaligus mesin ekonomi baru bagi masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan memasang target lebih besar: Revola direplikasi di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Target tersebut disampaikan Luthfi saat meresmikan sekaligus meninjau program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Senin (10/8).

Luthfi menegaskan, persoalan lahan tidak produktif bukan hanya milik Banjarnegara. Di berbagai daerah masih terdapat lahan yang belum digarap secara maksimal. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dijawab dengan kehadiran pemerintah.

“Saya pengen seluruh kabupaten/kota harus punya Revola, karena saya yakin di seluruh kabupaten/kota masih banyak lahan kita yang tidur nyenyak. Lahan tidur yang tidak pernah digarap, provinsi harus turun tangan,” kata Luthfi.

Bukan Sekadar Buka Lahan

Revola tidak dirancang sekadar untuk “membangunkan” lahan yang lama terbengkalai. Konsepnya dibuat sebagai ekosistem pertanian terintegrasi.

Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat dipadukan dalam satu kawasan. Harapannya, satu lahan bisa menghasilkan banyak manfaat dan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang.

Model itu mulai terlihat di Desa Susukan. Lahan seluas sekitar 10 hektare yang sebelumnya kurang produktif selama kurang lebih 12 tahun kini kembali digarap. Lahan eks tanaman teh tersebut dikembangkan dengan konsep integrated smart farming.

Kopi dan alpukat ditanam sebagai tanaman konservasi untuk membantu menekan erosi. Di kawasan yang sama juga dikembangkan hortikultura, padi, perikanan, serta peternakan ayam dan kambing.

Dengan pola tersebut, hasilnya tidak berhenti pada satu komoditas. Ketika satu sektor menghasilkan, sektor lainnya ikut bergerak.

Petani Muda Didorong Jadi Operator Teknologi

Revola juga membawa wajah baru pertanian. Anak muda tidak sekadar diajak menjadi petani, tetapi didorong menjadi bagian dari pertanian berbasis teknologi.

Petani milenial diproyeksikan mengoperasikan drone, sistem penyiraman hingga teknologi untuk membaca dan mengukur unsur tanah.

Artinya, pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional yang jauh dari teknologi.

Luthfi menilai keterhubungan berbagai sektor tersebut menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai proyek pertanian semata.

“Semua tersambung, campur baur, sehingga ujungnya masyarakat sejahtera, masyarakat tidak nganggur, serta lahannya terpakai tidak pernah berhenti,” ujarnya.

Bukan Cuma Soal Pangan

Luthfi juga menempatkan Revola sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan.

Masyarakat miskin, termasuk mereka yang masuk kategori miskin ekstrem, didorong memperoleh akses untuk terlibat dalam berbagai aktivitas produktif. Mulai pertanian, peternakan hingga perikanan.

Skemanya sederhana: lahan bergerak, masyarakat ikut bekerja, produksi tumbuh, kemudian pendapatan meningkat.

“Misalnya di daerah Banjarnegara ini banyak yang miskin. Dengan cara itu mereka akan naik kelas sehingga tidak miskin dan miskin ekstrem lagi,” katanya.

Kepala Desa Susukan Hasyim Abdullah mengatakan masyarakat menyambut positif program tersebut. Sebab, lahan yang sebelumnya tidak produktif kini mulai memberikan manfaat secara langsung.

Menurutnya, konsep integrasi membuat masyarakat tidak hanya mengandalkan hasil pertanian. Peternakan dan perikanan ikut menjadi sumber pangan sekaligus peluang pendapatan.

Program yang baru berjalan sekitar sebulan itu, untuk tahap awal, hasil telur ayam dimanfaatkan masyarakat guna membantu pemenuhan gizi. Ke depan, produksi tersebut ditargetkan berkembang menjadi sumber penghasilan keluarga.

“Revola ini juga memberdayakan masyarakat miskin yang ada di desa kami. Program ini kan baru berjalan sebulan, jadi untuk awal hasil telur ayam akan dimanfaatkan sendiri untuk peningkatan gizi, ke depannya akan meningkatkan pendapatan bagi keluarga miskin,” kata Hasyim.

12 Tahun Tidur, Kini Mulai Produktif

Petani Desa Susukan Nur Fauzi merasakan langsung perubahan tersebut. Lahan eks tanaman teh yang selama sekitar 12 tahun tidak dimanfaatkan optimal kini kembali menjadi ruang produksi.

Beragam komoditas mulai ditanam, mulai kopi, alpukat, cabai, terong hingga padi. Peternakan kambing dan ayam serta perikanan juga dikembangkan dalam kawasan yang sama.

“Saya ikut ternak kambing. Selain kambing, ada juga yang ikut ternak ayam, perikanan, dan lainnya seperti menanam kopi, alpukat, hortikultura seperti cabai, terong hingga padi,” ujarnya.

Menurut Fauzi, salah satu nilai plus Revola adalah keterlibatan anak muda.

Di tengah banyaknya pemuda desa yang memilih merantau setelah lulus sekolah, teknologi pertanian dinilai bisa menjadi magnet baru agar generasi muda melihat desa dan sektor pertanian sebagai ruang untuk membangun masa depan.

“Sangat baik karena anak-anak muda juga dilibatkan karena bisa untuk regenerasi petani. Soalnya kebanyakan anak muda sini setelah lulus sekolah dan tidak melanjutkan, banyak merantau atau bekerja di luar desa,” katanya.

Target 35 kabupaten/kota membuat Revola tak lagi sekadar proyek percontohan Banjarnegara. Tantangannya kini adalah bagaimana model tersebut bisa “dikloning” ke daerah lain tanpa kehilangan karakter lokal.

Sebab, setiap daerah memiliki potensi berbeda. Ada wilayah yang kuat di padi, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, maupun komoditas unggulan lainnya.

Jika mampu direplikasi dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah, Revola berpeluang mengubah paradigma lahan tidur: dari aset yang mangkrak menjadi lahan produktif, sumber pangan, pembuka lapangan kerja, sekaligus penggerak ekonomi desa. (*)

Editor : Admin
revila jateng Ahmad Luthfi