Remaja 19 Tahun Asal Sragen Hilang Terseret Arus Saat Berendam di Bengawan Solo, Tim SAR Lakukan Pencarian

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:36 WIB
KONDISI TERKINI: Kondisi tinggi muka air sungai Bengawan Solo mencapai batas siaga.
Sungai Bengawan Solo.

SRAGEN – Sungai Bengawan Solo kembali memakan korban. Seorang pemuda asal Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, dilaporkan hilang setelah diduga terseret arus bawah saat berendam di sungai pada Minggu (19/7/2026) siang. Hingga Senin (20/7/2026), tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif di sepanjang aliran sungai.

Korban diketahui bernama Irsad Rivai Musslih (19), warga Dukuh Gawan, Desa Gawan. Insiden nahas tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB ketika korban bersama beberapa rekannya menghabiskan waktu di bantaran Sungai Bengawan Solo yang berada di wilayah Dukuh Ngipang.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, cuaca yang sangat panas membuat korban memutuskan turun ke sungai untuk berendam. Namun nahas, beberapa saat setelah masuk ke air, korban diduga kehilangan pijakan dan terseret arus yang cukup kuat.

Kepala Desa Gawan, Sutris, menjelaskan salah seorang teman korban sebenarnya mengetahui bahwa Irsad tidak memiliki kemampuan berenang. Karena khawatir, rekannya bernama Dista ikut masuk ke sungai untuk mendampingi dan berjaga apabila terjadi sesuatu.

"Korban awalnya hanya ingin berendam karena cuaca sedang terik. Temannya ikut turun karena mengetahui korban tidak bisa berenang," ujarnya.

Tidak lama kemudian, korban diduga terpeleset hingga masuk ke bagian sungai yang lebih dalam. Arus bawah Bengawan Solo yang dikenal cukup kuat langsung menyeret tubuh korban. Rekannya sempat berusaha memberikan pertolongan dengan memegang tubuh korban, tetapi derasnya arus justru menyeret keduanya hingga sekitar 250 meter ke arah hilir.

Di tengah situasi darurat tersebut, seorang remaja bernama Choki Putut Saputro (16) yang berada di tepi sungai melihat keduanya berusaha menyelamatkan diri. Dengan cepat, ia melemparkan sebuah bola plastik ke arah korban dan rekannya.

Dista berhasil meraih bola tersebut sehingga dapat bertahan di permukaan air sebelum akhirnya dievakuasi ke tepian sungai oleh warga. Sementara itu, Irsad diduga sudah kehabisan tenaga sehingga tenggelam dan hilang terbawa arus.

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sragen, Anang, menjelaskan bahwa dalam kondisi panik biasanya korban tenggelam mengalami refleks saling menarik satu sama lain untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut justru dapat memperbesar risiko keduanya tenggelam apabila tidak segera mendapatkan pertolongan.

"Korban yang berhasil diselamatkan sempat mengalami kepanikan. Sedangkan korban yang hilang diduga sudah kehabisan tenaga dan oksigen sehingga akhirnya tenggelam," jelasnya.

Setelah menerima laporan, operasi pencarian langsung dilakukan oleh tim SAR gabungan yang terdiri atas BPBD Kabupaten Sragen, Basarnas, TNI, Polri, relawan Tagana, MDMC, MTA, Dinas Sosial, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.

Pencarian dilakukan menggunakan perahu karet, metode penyisiran sungai, hingga pemantauan dari darat di sepanjang aliran Bengawan Solo. Saat malam hari, pencarian di air sempat dihentikan karena pertimbangan keselamatan personel dan minimnya jarak pandang, kemudian dilanjutkan kembali pada keesokan harinya.

Tim SAR juga memanfaatkan pemetaan arus sungai untuk memperkirakan kemungkinan lokasi korban terbawa aliran. Proses pencarian difokuskan pada sejumlah titik yang memiliki pusaran air maupun endapan, karena lokasi tersebut berpotensi menjadi tempat korban tersangkut.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa dengan karakter arus yang berubah-ubah, terutama saat debit air meningkat akibat hujan di wilayah hulu. Kondisi tersebut membuat permukaan sungai sering terlihat tenang, padahal memiliki arus bawah yang cukup kuat dan berbahaya.

BPBD mengimbau masyarakat agar tidak berenang maupun berendam di sungai tanpa pengawasan dan kemampuan berenang yang memadai. Aktivitas di kawasan sungai juga sebaiknya memperhatikan kondisi cuaca serta debit air karena perubahan arus dapat terjadi sewaktu-waktu.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa Sungai Bengawan Solo menyimpan potensi bahaya yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di kawasan perairan.

Editor : Mahendra Aditya
pemuda Sragen hilang Tim SAR Sragen sungai bengawan solo bengawan solo bpbd sragen