BOYOLALI – Temuan ulat hidup pada daun selada dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, memicu evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan di dapur penyedia layanan.
Setelah melakukan inspeksi dan klarifikasi di lapangan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali menyimpulkan bahwa penyebab utama munculnya ulat tersebut adalah proses pencucian sayuran yang belum dilakukan secara optimal.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak usia dini, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program nasional MBG.
Dinkes: Ulat Berasal dari Sayuran Segar
Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, FX Kristandyoko, menjelaskan bahwa ulat yang ditemukan merupakan ulat sayuran yang lazim dijumpai pada tanaman selada.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal bersama tim kesehatan, tidak ditemukan indikasi bahwa ulat tersebut berasal dari proses pembusukan makanan ataupun kontaminasi setelah makanan dimasak.
"Hasil klarifikasi menunjukkan ulat tersebut merupakan ulat yang biasa terdapat pada daun selada. Kemungkinan masih tertinggal karena proses pencucian belum dilakukan secara maksimal," jelas Kristandyoko.
Pihak Dinkes bersama unsur pemerintah daerah langsung mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, setelah menerima laporan dari sekolah penerima manfaat MBG.
Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan kepada Seluruh Murid
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan juga meminta tenaga medis dari Puskesmas Ngemplak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anak di PAUD/KB Kids Fun Education Gagaksipat, lokasi ditemukannya ulat pada makanan.
Pemeriksaan dilakukan oleh dokter dan bidan guna memastikan tidak ada peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu tersebut.
Hingga proses pemeriksaan berlangsung, belum ada laporan adanya gejala keracunan makanan maupun keluhan kesehatan serius dari para siswa.
Langkah ini sejalan dengan prinsip respons cepat terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) pangan, yakni memastikan keamanan penerima manfaat sebelum menarik kesimpulan lebih lanjut.
Dinkes Keluarkan Sejumlah Rekomendasi
Insiden tersebut mendorong Dinas Kesehatan Boyolali mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang wajib dilaksanakan oleh pengelola dapur MBG maupun SPPG.
Beberapa poin evaluasi yang menjadi perhatian antara lain:
-
memperketat penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan sayuran segar yang dikonsumsi tanpa proses pemanasan;
-
menerapkan metode pencucian sayuran sesuai pedoman keamanan pangan dari Kementerian Kesehatan RI;
-
mengevaluasi pemasok bahan baku agar kualitas sayuran tetap terjaga;
-
memperbaiki sistem penyimpanan bahan pangan untuk mencegah kontaminasi;
-
meningkatkan pelatihan dan penyegaran (refreshment) bagi seluruh petugas pengolah makanan;
-
memperkuat pengawasan rutin bersama Satgas MBG dan instansi terkait.
Menurut Dinkes, pembinaan akan dilakukan secara berkelanjutan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Baca Juga: Miris! SD Negeri di Karanganyar Tanpa Siswa Baru, Guru Patungan Beli Seragam demi Selamatkan Sekolah
MBG Harus Mengutamakan Keamanan Pangan
Kristandyoko menegaskan bahwa tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak aman dari sisi higienitas dan keamanan pangan.
Karena itu, seluruh penyelenggara MBG diharapkan menjadikan temuan tersebut sebagai bahan evaluasi, bukan sekadar kesalahan teknis yang diabaikan.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak, menekan angka stunting, serta mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Keamanan pangan menjadi salah satu syarat utama keberhasilan program tersebut, sebagaimana diatur dalam berbagai pedoman dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pangan Nasional.
Temuan Sudah Terjadi Beberapa Kali
Kasus ini mencuat setelah pihak PAUD/KB Kids Fun Education Gagaksipat melaporkan adanya ulat hidup pada daun selada yang disajikan dalam menu MBG.
Pengelola sekolah, Dewi Ritaningsih, mengungkapkan bahwa temuan tersebut bukan kali pertama terjadi.
Menurutnya, kejadian serupa telah ditemukan sebanyak tiga kali.
Pada dua kejadian sebelumnya, pihak sekolah memilih menghilangkan ulat tersebut sambil memberikan catatan evaluasi kepada pengelola dapur MBG melalui formulir laporan harian yang memang disediakan.
Namun karena kejadian kembali terulang, pihak sekolah memutuskan segera melaporkannya agar dilakukan evaluasi lebih menyeluruh.
Dalam sejumlah dokumentasi video yang beredar, ulat tampak masih hidup dan berada di atas daun selada maupun di dalam baki makanan (food tray).
Satgas MBG Langsung Lakukan Verifikasi
Ketua Satgas MBG Kabupaten Boyolali, M. Syawalludin, memastikan laporan tersebut langsung ditindaklanjuti.
Tim gabungan yang terdiri atas pihak kecamatan, Puskesmas, pengelola SPPG, ahli gizi, serta pelapor turun langsung ke lokasi untuk melakukan verifikasi terhadap proses penyediaan makanan.
Verifikasi meliputi pemeriksaan bahan baku, proses pencucian, penyimpanan sayuran, hingga distribusi makanan ke sekolah penerima manfaat.
Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar perbaikan sistem pelayanan MBG di wilayah Boyolali.
Pentingnya Penanganan Sayuran Segar
Dalam praktik keamanan pangan, sayuran berdaun seperti selada memang termasuk bahan pangan yang memiliki risiko membawa serangga kecil, telur ulat, maupun residu tanah apabila proses pencuciannya tidak dilakukan secara benar.
Kementerian Kesehatan RI menganjurkan pencucian sayuran menggunakan air mengalir secara menyeluruh sebelum diolah atau disajikan. Pada layanan makanan dalam jumlah besar seperti katering sekolah, proses ini harus disertai pemeriksaan visual berlapis untuk memastikan tidak ada benda asing yang tertinggal.
Kasus di Boyolali menjadi pengingat bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bergantung pada nilai gizi makanan, tetapi juga pada penerapan standar kebersihan, pengawasan mutu, serta disiplin seluruh petugas dalam menjaga keamanan pangan bagi anak-anak Indonesia.
Editor : Mahendra Aditya