KARANGANYAR – Fenomena menurunnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar negeri kembali menjadi sorotan. Kali ini terjadi di SD Negeri 04 Selomoro, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang sama sekali tidak memperoleh siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Kondisi tersebut membuat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada satu pun wajah baru yang mengikuti kegiatan penyambutan siswa baru, sementara aktivitas sekolah hanya diikuti siswa kelas 2 hingga kelas 6.
Padahal, keberadaan peserta didik baru menjadi penentu keberlangsungan sekolah, baik dari sisi proses belajar mengajar maupun besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima setiap tahunnya.
Calon Murid Ada, Namun Belum Memenuhi Usia
Guru Kelas III SDN 04 Selomoro, Dwi Nunus Susilawati, menjelaskan sebenarnya ada seorang anak yang mendaftar. Namun usia calon siswa tersebut masih sekitar 5 tahun 1 bulan, sehingga belum memenuhi ketentuan usia minimal masuk sekolah dasar sebagaimana diatur dalam regulasi pemerintah.
Karena di wilayah tersebut tidak terdapat taman kanak-kanak (TK), sekolah sempat mempertimbangkan untuk menerima anak tersebut sebagai peserta didik pendamping atau kelas persiapan hingga usianya memenuhi syarat.
Menurutnya, kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri. Akses menuju TK maupun sekolah lain relatif jauh sehingga banyak keluarga kesulitan mengantar anak setiap hari.
Empat SD dalam Satu Desa, Jumlah Anak Terus Menurun
Meski berada di wilayah yang sama, Desa Selomoro memiliki empat sekolah dasar. Namun jumlah anak usia sekolah terus mengalami penurunan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Karanganyar, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia akibat beberapa faktor, antara lain:
-
penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir;
-
perpindahan penduduk ke daerah perkotaan;
-
orang tua yang lebih memilih sekolah swasta;
-
persebaran sekolah yang terlalu banyak dibanding jumlah anak usia sekolah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kelahiran nasional mengalami tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, pemerintah daerah di berbagai wilayah mulai melakukan evaluasi terhadap sekolah-sekolah yang memiliki jumlah murid sangat sedikit melalui kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah.
Tahun Lalu Masih Ada Satu Murid
Situasi tahun ini jauh lebih berat dibanding tahun ajaran sebelumnya.
Pada 2025/2026, SDN 04 Selomoro masih menerima seorang siswa baru sehingga suasana MPLS masih terasa hidup. Kini, seluruh kegiatan hanya diikuti siswa lama yang kembali masuk sekolah setelah libur panjang.
Untuk mengatasi sedikitnya jumlah peserta didik, sekolah menerapkan pembelajaran gabungan pada beberapa kelas sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
MPLS tetap dilaksanakan sebagai sarana adaptasi siswa setelah masa libur serta mengembalikan semangat belajar sebelum kegiatan pembelajaran normal dimulai.
Guru Datangi Rumah Warga Demi Cari Murid
Tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut, para guru memilih melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat.
Mereka mendatangi rumah-rumah warga atau door to door untuk mengajak orang tua menyekolahkan anak di SDN 04 Selomoro.
Strategi jemput bola itu sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Bahkan sekolah pernah menerima anak yang usianya masih di bawah ketentuan sebagai kelas persiapan agar mereka tetap memiliki ikatan dengan sekolah hingga memenuhi syarat masuk kelas satu secara resmi.
Langkah tersebut dilakukan agar calon peserta didik tidak berpindah ke sekolah lain ketika usianya sudah cukup.
Seragam Gratis dari Uang Pribadi Guru
Upaya mempertahankan sekolah tidak berhenti pada promosi.
Para guru bahkan rela patungan menggunakan uang pribadi untuk membelikan seragam merah putih bagi setiap siswa baru yang diterima.
Selain seragam gratis, sekolah juga menyediakan program les tambahan tanpa dipungut biaya.
Menurut para guru, keterbatasan anggaran membuat sekolah tidak mampu mengandalkan dana operasional untuk program tersebut. Sebab, besaran Dana BOS dihitung berdasarkan jumlah peserta didik yang terdaftar.
Semakin sedikit jumlah siswa, semakin kecil pula dana yang diterima sekolah untuk membiayai operasional.
Meski demikian, para guru mengaku tetap menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan karena menganggap pendidikan di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Wacana Regrouping Pernah Muncul
Pemerintah sebelumnya sempat mewacanakan penggabungan SDN 04 Selomoro dengan sekolah lain.
Namun usulan tersebut belum mendapat persetujuan dari para wali murid.
Alasannya sederhana namun sangat mendasar, yakni persoalan akses transportasi.
Apabila sekolah dipindahkan ke lokasi lain, sebagian besar orang tua harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengantar maupun menjemput anak menggunakan ojek karena jarak sekolah cukup jauh.
Mayoritas masyarakat sekitar bekerja sebagai buruh dan petani sehingga tambahan biaya transportasi dinilai cukup memberatkan ekonomi keluarga.
Hanya Tersisa 14 Siswa
Saat ini SDN 04 Selomoro hanya memiliki 14 siswa yang tersebar di lima tingkat kelas.
Rinciannya meliputi:
-
Kelas 2 : 1 siswa
-
Kelas 3 : 3 siswa
-
Kelas 4 : 4 siswa
-
Kelas 5 : 4 siswa
-
Kelas 6 : 2 siswa
Sementara kelas 1 sama sekali tidak memiliki peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Menjadi Gambaran Krisis Pendidikan di Daerah
Kisah SDN 04 Selomoro menjadi potret nyata tantangan pendidikan dasar di wilayah pedesaan. Di satu sisi, sekolah tetap dibutuhkan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kecamatan. Di sisi lain, menurunnya jumlah anak usia sekolah membuat keberlangsungan sekolah negeri semakin sulit dipertahankan.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan terus mendorong pemerataan layanan pendidikan, termasuk evaluasi distribusi satuan pendidikan dan optimalisasi penggunaan Dana BOS. Namun, bagi sekolah-sekolah kecil di daerah terpencil, semangat para guru yang rela berkorban sering kali menjadi faktor utama agar layanan pendidikan tetap berjalan.
Perjuangan guru-guru SDN 04 Selomoro menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan anggaran, melainkan juga dedikasi dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak di pelosok negeri.
Editor : Mahendra Aditya