MAGELANG – Operasi pencarian terhadap seorang pemuda yang dilaporkan hilang di kawasan lereng Gunung Merapi akhirnya membuahkan hasil. Setelah tiga hari dinyatakan menghilang, Nurul Arifin (26), warga Dusun Tempel, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, ditemukan dalam keadaan selamat di aliran Sungai Senowo, Rabu (8/7/2026).
Penemuan korban menjadi akhir dari operasi pencarian yang melibatkan Basarnas Unit Siaga Borobudur, TNI, Polri, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), relawan, serta tim SAR gabungan. Meski menghadapi medan terjal dan ancaman aktivitas vulkanik Merapi, seluruh personel berhasil menemukan korban dalam kondisi hidup.
Ditemukan di Aliran Sungai Senowo
Koordinator Basarnas Unit Siaga Borobudur, Arif Yulianto, menjelaskan pencarian dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan titik awal di lokasi ditemukannya sepeda motor milik korban.
Tim melakukan metode Emergency Search and Rescue (ESAR), yaitu penyisiran secara menyebar di area perbukitan, jalur setapak, hingga kawasan hutan di lereng Gunung Merapi.
Sekitar pukul 11.45 WIB, tim menerima informasi bahwa korban ditemukan berada di aliran Sungai Senowo, sungai yang berhulu langsung dari kawasan Gunung Merapi.
"Korban ditemukan dalam kondisi selamat. Jarak lokasi penemuan sekitar delapan kilometer dari titik ditemukannya sepeda motor," ujar Arif.
Setelah dievakuasi dari lokasi yang cukup sulit dijangkau, Nurul Arifin langsung dibawa ke RSUD Muntilan untuk menjalani pemeriksaan medis dan memastikan kondisi kesehatannya pasca tiga hari berada di kawasan lereng gunung.
Operasi SAR Dihadapkan Ancaman Aktivitas Merapi
Proses pencarian tidak berjalan mudah. Selain medan yang curam dan dipenuhi vegetasi lebat, tim penyelamat juga harus memperhitungkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih aktif.
Menurut Arif, selama operasi berlangsung beberapa kali terjadi guguran material vulkanik dari puncak Merapi. Kondisi tersebut membuat personel SAR harus terus memantau situasi demi menjaga keselamatan seluruh anggota tim.
"Kendala terbesar di lapangan adalah aktivitas Gunung Merapi. Saat pencarian berlangsung beberapa kali terjadi guguran sehingga seluruh tim harus tetap waspada," jelasnya.
Dengan ditemukannya korban dalam keadaan selamat, operasi pencarian resmi dihentikan. Penutupan operasi dilakukan di kediaman keluarga korban di Dusun Tempel, Desa Ngargosoko.
Kronologi Hilangnya Korban
Sebelumnya, Nurul Arifin dilaporkan meninggalkan rumah pada Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Karena tidak kunjung pulang dan tidak dapat dihubungi, keluarga kemudian melaporkan kehilangannya ke Polsek Srumbung pada Senin (6/7).
Warga bersama relawan sempat melakukan pencarian secara mandiri sebelum akhirnya meminta bantuan Basarnas.
Petunjuk penting diperoleh pada Selasa (7/7) ketika sepeda motor Yamaha Jupiter MX milik korban ditemukan di jalur setapak pemantauan kebakaran kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Lokasi kendaraan berada sekitar empat kilometer dari puncak Gunung Merapi, sehingga menjadi titik awal penyisiran tim SAR gabungan pada hari berikutnya.
Kolaborasi Tim Gabungan Berbuah Hasil
Keberhasilan menemukan Nurul Arifin tidak lepas dari koordinasi berbagai unsur penyelamat yang bekerja secara terpadu.
Basarnas bersama TNI, Polri, BTNGM, relawan SAR, serta masyarakat setempat membagi area pencarian berdasarkan karakteristik medan untuk mempercepat proses penyisiran.
Metode pencarian darat dikombinasikan dengan pemetaan jalur sungai dan area perbukitan yang diperkirakan menjadi kemungkinan lintasan korban.
Hasilnya, kurang dari dua jam sejak operasi gabungan dimulai pada Rabu pagi, korban berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.
Imbauan Keselamatan di Kawasan Merapi
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kawasan lereng Gunung Merapi memiliki tingkat risiko tinggi, terutama karena aktivitas vulkanik yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas sendirian di kawasan hutan maupun jalur lereng gunung, serta selalu memberi informasi kepada keluarga apabila hendak memasuki area pegunungan.
Selain kondisi medan yang berat, ancaman guguran material vulkanik, cuaca yang cepat berubah, dan minimnya akses komunikasi dapat memperbesar risiko apabila terjadi keadaan darurat.
Keberhasilan operasi penyelamatan Nurul Arifin menjadi bukti pentingnya koordinasi cepat antara keluarga, aparat, Basarnas, dan relawan dalam menangani laporan orang hilang di kawasan pegunungan.
Editor : Mahendra Aditya