RADAR KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali mulai menerapkan kebijakan baru di sektor pendidikan dengan menguji coba sistem lima hari sekolah bagi jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2026/2027 dan akan berlangsung selama satu semester sebagai tahap evaluasi.
Selain mengubah pola hari belajar dari enam menjadi lima hari dalam sepekan, pemerintah daerah juga menambah durasi kegiatan belajar mengajar sekitar 80 menit setiap hari. Penyesuaian ini membuat jam kepulangan siswa menjadi lebih sore dibandingkan sebelumnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawalludin, mengatakan kebijakan tersebut diambil setelah melalui berbagai pertimbangan, termasuk hasil jajak pendapat yang melibatkan guru serta orang tua atau wali murid.
"Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat, terutama para pendidik, agar pelaksanaan uji coba ini dapat berjalan dengan baik," ujarnya usai rapat paripurna DPRD Boyolali, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Empat Terduga Penyerang Warga Ketitang Wetan Menyerahkan Diri Setelah Dimediasi Tokoh Masyarakat
Hasil Survei Jadi Dasar Pengambilan Kebijakan
Menurut Syawalludin, sebelum kebijakan diberlakukan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali telah melakukan survei kepada para pemangku kepentingan di dunia pendidikan.
Survei tersebut menggali pandangan guru dan orang tua mengenai efektivitas penerapan sekolah lima hari, dampaknya terhadap proses belajar, serta kesiapan peserta didik dan tenaga pendidik.
Hasil jajak pendapat itu kemudian menjadi salah satu bahan pertimbangan bersama aspek efisiensi penyelenggaraan pendidikan, kesiapan sekolah, hingga beban belajar siswa.
Berdasarkan evaluasi awal tersebut, Pemkab Boyolali memutuskan menjalankan kebijakan ini dalam bentuk uji coba terlebih dahulu.
Berlaku Selama Satu Semester
Penerapan sekolah lima hari akan dimulai sejak hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 dan berlangsung selama satu semester.
Setelah masa uji coba berakhir, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menilai efektivitas kebijakan tersebut.
Evaluasi akan mencakup capaian pembelajaran, kondisi psikologis peserta didik, efektivitas proses belajar mengajar, hingga dampaknya terhadap aktivitas keluarga dan masyarakat.
"Setelah satu semester nanti akan kami evaluasi. Jika manfaat yang diharapkan benar-benar tercapai tentu akan menjadi bahan pertimbangan ke depan. Namun apabila muncul konsekuensi yang kurang baik, hasil evaluasi itu juga akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya," jelas Syawalludin.
Jam Belajar Lebih Panjang
Konsekuensi dari pengurangan hari belajar adalah bertambahnya durasi pembelajaran setiap hari.
Pemkab Boyolali memperkirakan tambahan waktu belajar mencapai sekitar 80 menit per hari, baik bagi siswa SD maupun SMP.
Dengan penyesuaian tersebut, jam pulang sekolah juga mengalami perubahan.
Untuk jenjang SD, siswa diperkirakan akan menyelesaikan kegiatan belajar sekitar pukul 13.00 WIB atau sedikit lebih siang dibandingkan jadwal sebelumnya. Sementara itu, siswa SMP juga akan mengalami penyesuaian jam pulang sesuai jadwal pelajaran masing-masing sekolah.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa penambahan waktu belajar tetap disusun sesuai ketentuan beban belajar yang diatur dalam regulasi pendidikan nasional, sehingga tidak melebihi batas yang diperbolehkan.
Baca Juga: Sidang Korupsi DJKA: Direktur PT IPA Ungkap Dugaan Permintaan Fee Proyek, Sudewo Bantah Terima Uang
Sejalan dengan Upaya Peningkatan Efektivitas Pembelajaran
Model sekolah lima hari telah diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia dengan tujuan meningkatkan efektivitas proses belajar sekaligus memberikan waktu lebih panjang bagi siswa bersama keluarga pada akhir pekan.
Dalam implementasinya, sekolah tetap diwajibkan memenuhi jumlah jam pelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, pengurangan satu hari belajar harus diimbangi dengan penambahan durasi pembelajaran pada hari-hari lainnya.
Pemkab Boyolali berharap pola baru ini mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat koordinasi antara sekolah dan orang tua, serta menciptakan keseimbangan antara kegiatan akademik dan kehidupan keluarga.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa hasil uji coba selama satu semester akan menjadi dasar utama dalam menentukan apakah kebijakan sekolah lima hari akan diterapkan secara permanen atau justru disempurnakan sesuai hasil evaluasi di lapangan.
Editor : Mahendra Aditya