Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Unnes Gelar Nikah Massal Gratis di Program “Unnes Mantu 2026”, Puluhan Pasangan Antusias Ikut

Nabila Agustin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:39 WIB
Pamflet Unnes selenggarakan nikah massal.
Pamflet Unnes selenggarakan nikah massal.

RADAR KUDUS – Universitas Negeri Semarang (Unnes) kembali menghadirkan program tahunan bertajuk Unnes Mantu 2026 yang tahun ini tampil dengan konsep berbeda dari sebelumnya.

Kegiatan yang merupakan bagian dari pembelajaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa tersebut kini turut membuka layanan akad nikah massal gratis untuk masyarakat umum.

Sebanyak sembilan pasangan resmi melangsungkan akad nikah dalam kegiatan yang digelar di Pendopo Kampung Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, Kampus Gunungpati, Semarang, pada Jumat (19/6/2026).

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Pergelaran 5 Gagrag Panggih Pengantin dengan tema “Pengantin Lintas Masa”.

Salah satu pasangan yang menjadi perhatian adalah Muhammad Ali (69) dan Catur Orbasal Prihati (59), warga Kota Semarang, yang akhirnya meresmikan hubungan mereka setelah penantian panjang selama dua puluh tahun lebih.

“Karena kondisi ekonomi, kami memilih ikut nikah massal. Semuanya difasilitasi kampus,” ujar Ali.

Ali juga mengungkapkan bahwa informasi program tersebut ia dapatkan melalui grup WhatsApp.

Menurutnya, seluruh kebutuhan pernikahan mulai dari administrasi hingga mahar telah ditanggung panitia sehingga sangat membantu pasangan peserta.

Kebahagiaan serupa dirasakan pasangan asal Salatiga, Muhammad Slamet (43) dan Komariah (51), yang juga menjadi peserta akad nikah massal tersebut.

Usai prosesi, keduanya tampak bahagia atas momen yang akhirnya mereka dapatkan.

“Selain gratis, kami juga bangga bisa terpilih setelah melalui proses seleksi,” ujar Komariah.

Ia menambahkan bahwa keduanya telah menjalin hubungan selama dua tahun sebelum akhirnya resmi menikah melalui program tersebut.

Semua kebutuhan pernikahan, termasuk busana dan rias pengantin, turut disiapkan oleh panitia.

Dosen pengampu mata kuliah Pranata Adat Jawa, Didik Supriyadi, menjelaskan bahwa Unnes Mantu sebenarnya sudah menjadi agenda rutin tahunan sebagai bagian dari praktik pembelajaran mahasiswa.

Namun pada tahun 2026 ini, terdapat inovasi baru dengan dibukanya akad nikah massal untuk masyarakat umum.

“Pada tahun ini kami menambahkan inovasi berupa akad nikah massal yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat cukup tinggi, dengan jumlah pendaftar mencapai puluhan pasangan.

Namun setelah melalui proses verifikasi ketat, hanya sembilan pasangan yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti akad nikah massal.

Menurut Didik, seleksi dilakukan berdasarkan ketentuan administrasi dan hukum, termasuk status pernikahan, usia, serta kelengkapan wali nikah.

“Ada beberapa yang tidak bisa ikut karena belum memenuhi syarat, misalnya masih dalam masa iddah,” jelasnya.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Panatacara, Widodo, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan nikah massal berawal dari fenomena pasangan yang telah hidup bersama namun belum memiliki legalitas pernikahan resmi.

“Banyak kasus kelahiran tanpa pencatatan pernikahan resmi, sehingga ini menjadi perhatian kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mendorong kampus untuk menghadirkan solusi melalui kegiatan akademik yang juga berdampak sosial.

Selain akad nikah, rangkaian Unnes Mantu 2026 juga akan dilanjutkan dengan pergelaran adat panggih pengantin pada Sabtu (20/6/2026).

Yang menampilkan lima gagrag tradisi Jawa, yakni Surakarta Karaton, Kraton Krabat, Sudhagar, Pabrayatan, dan Yogyakarta Pabrayatan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut terlibat langsung mulai dari pendataan peserta, koordinasi dengan KUA, hingga dokumentasi acara.

Program ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga bentuk pengabdian sosial sekaligus pelestarian budaya Jawa.

Berdasarkan dokumentasi Tempo, seluruh pasangan peserta memperoleh fasilitas lengkap secara gratis.

Mulai dari mahar berupa seperangkat alat salat, layanan rias pengantin, dokumentasi, hingga pengurusan administrasi pernikahan, yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi adat setelah akad berlangsung.

 
Editor : Ali Mustofa
#UNNES Mantu 2026 #semarang #Unnes