SEMARANG — Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang melakukan unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 15 Juni 2026 sore.
Mereka menyuarakan lima tuntutan yang dinamakan Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) untuk memperlihatkan keberatan atas kebijakan pemerintah pusat yang dinilai merugikan masyarakat.
Aksi ini dihadiri oleh mahasiswa dari sejumlah universitas seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Politeknik Negeri Semarang (Polines), UIN Walisongo Semarang, dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula)
Berdasarkan keterangan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes, Septia Linasari, hari itu lebih dari 1.000 orang berkumpul di halaman kompleks Gubernuran, Kecamatan Semarang Selatan.
Baca Juga: Demo di Semarang: Mahasiswa Bakar Ban, Polisi Langsung Padamkan
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa mengangkat spanduk-spanduk yang berisi tulisan seperti "Desa ga pake dolar, Prabowo ga pake nalar", "Reformasi mati", dan "Reformasi Jilid II-Pantura".
Mereka berteriak "reformasi" secara serentak sebagai bentuk dorongan kepada pemerintah.
Panca Tuntutan Rakyat atau Pantura yang dibacakan oleh juru bicara di hadapan massa mencakup lima poin utama: menurunkan harga BBM dan menstabilkan nilai tukar rupiah, mengembalikan TNI-Polri pada peran utamanya, mengevaluasi total program MBG dan KDMP, mengembalikan hak atas tanah kepada rakyat, dan menghapus praktik KKN dalam pemerintahan
Kelima tuntutan ini mencerminkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap berbagai kebijakan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Aksi Demo Mahasiswa Undip Semarang: Tuntut Program MBG Dihentikan
Sekelompok mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang melakukan aksi pembakaran ban di depan gerbang Kantor Gubernur Jateng sebagai tindakan protes.
Mereka menyatakan aksi ini merupakan penolakan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin oprresif dan kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat.
Mahasiswa yang berunjuk rasa di depan gerbang Kantor DPRD Jateng juga ikut serta dalam pembakaran ban.
Dalam aksi ini, mereka juga membakar jelangkung sebagai simbol protes terhadap pemerintahan yang dianggap tidak rasional.
Baca Juga: Pengendara Mobil Nekat Terobos Palang Kereta Api di Jalan Layur Semarang, KA Anggrek Klakson Panjang
Ratusan personel TNI-Polri siap siaga di area Kantor Gubernur dan DPRD Jateng untuk mengawasi perkembangan situasi.
Aliansi mahasiswa Semarang melaksanakan demonstrasi di depan kantor Gubernuran pada Senin, 15 Juni 2026 untuk menentang kebijakan pusat.
Aksi tersebut sempat terjadi kericuhan ketika polisi berusaha membubarkan massa yang melakukan pembakaran ban dan jelangkung.
Situasi menjadi tegang di Semarang selama demonstrasi besar ini.
Baca Juga: Pajak Kendaraan di Jateng Menunggak Rp 3,759 Triliun, Wilayah Semarang Tertinggi
Demo yang berjudul "Reformasi Jilid II" ini merupakan lanjutan dari gerakan mahasiswa sebelumnya yang menuntut perubahan dalam pemerintahan.
Aliansi mahasiswa Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang mengadakan demonstrasi dengan lokasi berkumpul di Pertamina sebelum menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Terkait dengan aksi massa di sekitar Kantor Pertamina, Kota Semarang, pada Senin, 15 Juni 2026, pukul 10.00 WIB, para penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Semarang Tawang dan Semarang Poncol disarankan untuk datang lebih awal.
Saran ini dikeluarkan oleh pihak KAI untuk mencegah gangguan pada jadwal perjalanan penumpang.
Aksi demonstrasi berlangsung pada sore hari dengan intensitas yang cukup tinggi, di mana mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan kepada pemerintah.
Baca Juga: Dua Wanita Tewas Dibunuh di Banyumas, Polisi Tangkap Pelaku
Para demonstran tetap setia menyuarakan Panca Tuntutan Rakyat mereka di depan Kantor Gubernur Jateng sebagai bentuk tekanan terhadap kebijakan pemerintah pusat.
Ratusan pekerja sebelumnya juga pernah berunjuk rasa di kantor Gubernur Jawa Tengah pada bulan Desember 2025 setelah batalnya penetapan Upah Minimum Provinsi.
Namun, aksi yang dilakukan pada 15 Juni 2026 kali ini sepenuhnya dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas. Inti dari unjuk rasa kali ini adalah menuntut adanya perubahan dalam pemerintahan serta kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat. (*)
Editor : Anita Fitriani