Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menyambut Malam 1 Suro, Tradisi Kungkum di Tugu Soeharto Semarang Tetap Bertahan

Nabila Agustin • Selasa, 16 Juni 2026 | 08:40 WIB
Foto ilustrasi pelaksanaan tradisi kungkum di Tugu Soeharto, Semarang, setiap 1 suro (generated by AI)
Foto ilustrasi pelaksanaan tradisi kungkum di Tugu Soeharto, Semarang, setiap 1 suro (generated by AI)

RADAR KUDUS – Menjelang malam 1 Suro atau 1 Muharam, kawasan Tugu Soeharto yang berada di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, kembali dipadati masyarakat.

Tradisi tahunan yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini masih menjadi magnet bagi warga yang ingin menyaksikan maupun mengikuti ritual kungkum di aliran Sungai Kaligarang.

Sejak sore hari, kawasan sekitar tugu mulai dipenuhi aktivitas warga. Area yang berada di pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo itu berubah menjadi pasar dadakan yang ramai oleh pedagang dan pengunjung.

Beragam dagangan dijajakan, mulai dari mainan anak, pakaian, hingga aneka makanan dan minuman.

Seorang warga bernama Rahma mengaku datang khusus untuk melihat langsung tradisi kungkum yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain.

“Saya sering lewat sini, tapi baru kali ini ingin melihat langsung ritual kungkumnya. Ternyata suasananya jauh lebih ramai dari yang saya bayangkan,” ujarnya.

Tugu Soeharto sendiri berdiri di tepi Sungai Kaligarang, tepat di bawah jembatan yang menghubungkan wilayah Bendan Duwur dan Simongan.

Meski bentuknya sederhana dan tidak terlalu mencolok, monumen berwarna putih itu memiliki nilai historis yang cukup kuat bagi masyarakat sekitar.

Menurut pemerhati sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono, tugu tersebut dibangun pada 1965 oleh Romo Diyat, yang dikenal sebagai guru spiritual Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan tugu itu berkaitan dengan kisah masa perjuangan ketika Soeharto dikabarkan pernah menyelamatkan diri dalam masa perang gerilya melawan Belanda dengan bersembunyi di kawasan Sungai Kaligarang.

“Dulu posisi Tugu Soeharto ini tepat berada di tengah aliran sungai,” kata Johanes kepada Kompas.com, Senin (15/6/2026).

Selain nilai sejarah, kawasan Tugu Soeharto juga erat kaitannya dengan tradisi kungkum yang digelar setiap malam 1 Suro.

Dalam tradisi ini, warga berendam di Sungai Kaligarang sebagai bentuk laku spiritual, perenungan diri, serta upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ritual tersebut tidak hanya diikuti warga Semarang, tetapi juga menarik minat pengunjung dari berbagai daerah yang datang untuk mencari ketenangan batin hingga melakukan refleksi diri.

Johanes menuturkan bahwa pada masa lalu, sebagian orang bahkan datang dengan tujuan yang beragam, termasuk mencari keberuntungan hingga jodoh.

“Dulu ada juga yang datang untuk mencari angka keberuntungan, jodoh, dan sebagainya. Tapi sekarang sudah tidak terlalu ramai seperti dulu,” ujarnya.

Meski mengalami penurunan jumlah peserta dibandingkan beberapa dekade lalu, tradisi kungkum di kawasan Tugu Soeharto masih tetap bertahan hingga kini.

Pada era 1970-an hingga awal 2000-an, lokasi ini dikenal sangat padat saat malam 1 Suro, namun kini suasananya cenderung lebih tenang.

Kendati demikian, Tugu Soeharto dan tradisi kungkum tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat Semarang.

Setiap tahun, kawasan ini masih menjadi titik kumpul warga untuk mengenang sejarah, menjalani ritual spiritual, sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Editor : Ali Mustofa
#Tugu Soeharto #semarang #1 Muharam #1 suro