Heboh Santriwati di Pekalongan Hamil “Lewat Mimpi”, Fakta Ini Bikin Publik Bingung

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 27 Mei 2026 | 15:18 WIB
Ilustrasi ibu hamil (freepik)
Ilustrasi ibu hamil (freepik)

PEKALONGAN – Warga Pekalongan tengah digemparkan oleh sebuah kasus yang menuai perdebatan luas, yakni seorang santriwati yang disebut mengaku hamil tanpa adanya hubungan seksual, bahkan dikaitkan dengan kejadian melalui mimpi.

Peristiwa ini sontak menjadi sorotan karena dianggap tidak masuk akal oleh banyak pihak.

Namun demikian, keluarga tetap bersikukuh meyakini bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi sebagaimana yang mereka alami.

Tim Metropekalongan.com mencoba menelusuri langsung informasi tersebut dengan mendatangi pihak terkait untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas di tengah beragam narasi yang berkembang di masyarakat.

Santriwati berinisial F (22), warga Dukuh Keberkahan, Desa Kedungkebo, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, diketahui merupakan salah satu santri di sebuah pondok pesantren di wilayah Kecamatan Buaran.

Dalam cerita yang beredar, F disebut telah melahirkan seorang bayi laki-laki pada Desember 2025 di Klinik dr. Imamah yang berada di Kecamatan Doro.

Pihak tenaga medis pun membenarkan bahwa proses persalinan memang terjadi di lokasi tersebut.

Menurut keterangan dokter, pasien datang dalam kondisi sudah siap melahirkan dengan pembukaan lengkap, sehingga langsung ditangani hingga proses persalinan berlangsung dengan cepat.

“Pasien datang tanggal 13 Desember 2025 sekitar pukul 22.00 dalam kondisi sudah pembukaan lengkap. Pukul 22.30 bayi lahir,” ungkap dr. Imaamah Muqodassah saat ditemui, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa bayi yang lahir dalam kondisi sehat dengan berat 2,9 kilogram, panjang 48 cm, serta ukuran lingkar kepala dan dada masing-masing 31 cm.

Menurut hasil pemeriksaan, usia kehamilan diperkirakan mencapai 39 minggu.

Dokter juga menyebut bahwa ini merupakan persalinan pertama bagi F, tanpa riwayat keguguran sebelumnya.

Selama proses persalinan, pasien hanya didampingi orang tua tanpa kehadiran pihak lain yang mengaku sebagai ayah bayi tersebut.

Pihak klinik sendiri mengaku fokus pada penanganan medis tanpa mendalami latar belakang secara lebih jauh saat kondisi darurat.

Informasi mengenai kondisi kehamilan tanpa suami baru diketahui setelah proses administrasi selesai dilakukan pascapersalinan.

Dari keterangan keluarga, disebutkan bahwa F mengaku tidak pernah melakukan hubungan badan, dan kehamilan itu diketahui setelah ia tidak mengalami menstruasi sejak September 2025.

Menariknya, keluarga juga menyebut bahwa selama masa kehamilan, kondisi perut F terkadang terlihat membesar pada waktu tertentu saja, kemudian kembali mengecil di waktu lain.

Ayah F, Slamet, saat ditemui di rumahnya bersama istri, mengaku tetap pada keyakinannya terhadap kejadian yang dialami anaknya.

Namun ia memilih tidak banyak memberikan komentar tambahan terkait peristiwa tersebut.

“Bagi kami ini sudah takdir Allah. Kami juga bingung, tapi itulah yang terjadi,” ungkapnya.

Ia juga membenarkan bahwa F sempat bercerita mengenai perubahan yang dialaminya sejak di pondok pesantren maupun saat berada di rumah.

Slamet menegaskan bahwa selama ini tidak ada kecurigaan terhadap aktivitas putrinya, terlebih lingkungan pesantren yang dianggap sangat ketat dalam pengawasan santri.

Pihak keluarga juga menyebut tidak ada dugaan hubungan dengan pihak lain, sebagaimana yang sempat menjadi pertanyaan di masyarakat.

Terkait bayi yang dilahirkan, Slamet mengungkapkan bahwa saat ini sang bayi telah diasuh oleh keluarga lain melalui proses adopsi resmi di Kabupaten Banjarnegara.

Meski sempat berat hati, keluarga akhirnya merelakan dengan berbagai pertimbangan, termasuk kondisi sosial dan psikologis anaknya.

“Yang penting sekarang anaknya sehat dan bisa dirawat dengan baik,” ujar Slamet.

Ia juga berharap agar publik tidak terus memperbesar pemberitaan terkait kasus ini, karena dinilai berdampak pada kondisi mental F yang semakin menurun akibat sorotan luas di media sosial.

Bottom of Form

Editor : Ali Mustofa
Sumber : Metro Pekalongan
proses persalinan pekalongan hamil santriwati