SEMARANG — Isu tentang dugaan pembuangan kucing di daerah Lawang Sewu sempat menjadi perbicangan hangat di media sosial, namun pihak manajemen akhirnya memberikan penjelasan tegas bahwa berita tersebut tidak benar.
PT Kereta Api Pariwisata yang mengelola Lawang Sewu menekankan bahwa tidak ada rencana untuk mengeluarkan kucing dari area warisan tersebut, dan tidak pernah ada ancaman atau kebijakan yang mengarah pada pengusiran hewan-hewan yang tinggal di kawasan wisata itu.
Penjelasan ini muncul setelah berita tentang Lawang Sewu yang dianggap tidak ramah terhadap kucing liar juga tersebar dan memicu reaksi di kalangan masyarakat.
Menanggapi hal ini, manajemen menegaskan bahwa keberadaan kucing dianggap sebagai bagian dari ekosistem area tersebut, sehingga tidak dilihat sebagai suatu masalah yang perlu dihilangkan.
Pihak pengelola juga menghargai perhatian dari komunitas pecinta hewan yang turut berkontribusi untuk menciptakan suasana yang lebih baik di lingkungan wisata bersejarah ini.
Alih-alih mengambil tindakan tegas atau menyingkirkan kucing, Lawang Sewu justru membuka kesempatan untuk bermitra dengan komunitas pencinta kucing di Semarang demi menjaga kesejahteraan hewan-hewan yang telah lama tinggal di lokasi itu.
Baca Juga: Pemkot Semarang Perkuat Transparansi Lewat Sistem Cashless untuk Retribusi Sampah
Langkah ini menunjukkan bahwa pengelola ingin mempertahankan keseimbangan antara pelestarian situs bersejarah dan kepedulian terhadap hewan yang merupakan bagian dari kehidupan di sekitarnya.
Dalam informasi terbaru, kerjasama ini bahkan diangkat sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memastikan agar kucing-kucing di Lawang Sewu terawat.
Adanya pernyataan ini, perhatian utama kini bukan lagi pada kabar yang beredar, melainkan pada usaha untuk membangun hubungan yang lebih baik antara pengelola, komunitas pecinta kucing, dan pengunjung.
Baca Juga: Demi Keselamatan, Pemkot Lakukan Pengawasan Ketat Kendaraan Berat di Jalur Silayur Ngaliyan Semarang
Lawang Sewu mengulangi bahwa kucing-kucing di kawasan tersebut tidak akan diusir, tetapi akan terus diperlakukan sebagai bagian dari identitas area wisata yang memiliki nilai historis dan humanis.
Penjelasan ini juga mengakhiri isu yang sempat muncul dan mengembalikan perhatian publik pada fakta bahwa pengelola memilih untuk merawat dan berkolaborasi, bukan membuang. (*)
Editor : Anita Fitriani