Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wajah Rusak Usai Endolift, Wanita di Semarang Tempuh Jalur Hukum Gugat Klinik Kecantikan

Ali Mustofa • Senin, 11 Mei 2026 | 10:05 WIB
Aprilia Handayani, korban dugaan malpraktik di klinik kecantikan Semarang memperlihatkan kondisi wajah sesudah dan sebelum treatment endolift, dirasa alami kerusakan saraf. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Aprilia Handayani, korban dugaan malpraktik di klinik kecantikan Semarang memperlihatkan kondisi wajah sesudah dan sebelum treatment endolift, dirasa alami kerusakan saraf. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Seorang wanita bernama Aprilia Handayani diduga menjadi korban malpraktik setelah menjalani perawatan kecantikan di Klinik VAC.

Hingga kini, ia masih harus menjalani terapi intensif karena mengalami gangguan serius pada saraf wajah yang memengaruhi kemampuan berbicara, makan, hingga aktivitas sehari-hari.

Peristiwa ini bermula pada 12 September 2025 saat korban datang untuk melakukan perawatan skin booster.

Namun dokter berinisial Y justru menyarankan tindakan endolift dengan alasan hasilnya lebih optimal dan bisa bertahan hingga dua sampai tiga tahun.

Korban diyakinkan bahwa risiko tindakan tersebut kecil dan hanya menimbulkan pembengkakan sementara, sehingga prosedur dilakukan pada sore hari.

Sesampainya di rumah, kondisi wajah korban langsung terlihat tidak wajar.

Suaminya, Raymond Setiawan, mengaku terkejut melihat wajah istrinya membengkak parah.

Awalnya keluarga mengira hal itu merupakan efek normal pascatindakan.

Namun beberapa hari kemudian rasa nyeri dan bengkak justru semakin memburuk.

Sekitar sembilan hari setelah prosedur, muncul abses atau infeksi terbuka yang mengeluarkan nanah. K

orban sempat kembali ke dokter untuk meminta penjelasan, tetapi hanya diberi pilihan konsumsi antibiotik atau tindakan penjahitan luka.

Karena kondisi tidak membaik, korban akhirnya mencari penanganan dokter lain.

Seorang dokter gigi yang memeriksa korban tidak berani menjahit luka karena ukurannya besar dan masih terinfeksi.

Setelah dirujuk ke dokter bedah mulut, korban didiagnosis mengalami abses disertai nekrosis atau kematian jaringan.

Setelah infeksi mereda, korban mulai merasakan mati rasa pada wajah.

Aprilia mengungkapkan bahwa hingga kini sebagian wajahnya masih tidak memiliki sensasi normal.

Ia kerap tergigit sendiri saat makan dan mengalami kesulitan membuka mulut.

Setelah menjalani terapi tiga hingga empat bulan, kondisi mulai membaik, tetapi fungsi wajah belum pulih sepenuhnya.

Ia juga masih mengalami kesulitan minum tanpa tumpah, belum bisa berkumur dengan normal, serta kesulitan mengucapkan beberapa huruf.

Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan sosialnya, bahkan anaknya sering tidak memahami ucapan ibunya.

Hasil konsultasi dengan dokter spesialis saraf menunjukkan adanya kerusakan saraf wajah.

Pemeriksaan elektromiografi (EMG) di rumah sakit di Semarang memperlihatkan aktivitas saraf di area terdampak menurun drastis.

Korban kini harus rutin menjalani terapi saraf jangka panjang yang diperkirakan berlangsung hingga dua tahun.

Keluarga sebenarnya sempat berupaya menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

Pihak dokter disebut pernah menawarkan tindakan revisi dan bantuan biaya jika diperlukan operasi bedah plastik.

Namun karena tidak ada perbaikan signifikan, keluarga akhirnya menempuh jalur hukum.

Kuasa hukum korban, Sugiyono, menyatakan perkara kini berjalan melalui gugatan perdata di Pengadilan Negeri Semarang serta laporan pidana ke kepolisian terkait dugaan malpraktik.

Ia berharap kliennya memperoleh keadilan, pemulihan, serta pertanggungjawaban hukum atas kerugian yang dialami.

Sementara itu, kuasa hukum dokter berinisial Y belum memberikan tanggapan saat dimintai konfirmasi.

Editor : Ali Mustofa
#klinik kecantikan #saraf wajah #jalur hukum #semarang #rumah sakit