SEMARANG — Pasar Kanjengan di Semarang terbakar pada Rabu malam 29 April 2026, yang menghanguskan ratusan kios di belakang kompleks Pasar Johar.
Api mulai terlihat sekitar pukul 23.00 WIB, menyebabkan panik besar di kalangan pedagang dan masyarakat setempat, dengan banyak kios mengalami kerusakan serius hingga 40-50 persen.
Kebakaran terjadi di Blok F Pasar Kanjengan, sebuah area dengan banyak jenis kios yang menjual berbagai barang, termasuk sembako dan pakaian.
Dinas Perdagangan Kota Semarang mencatat sekurang-kurangnya 220 kios dan 26 ruko terdampak langsung oleh peristiwa ini, sementara Dinas Pemadam Kebakaran menyebut angka yang lebih tinggi, sekitar 480 kios yang terbakar.
Data tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh kawasan blok itu hancur total, menyisakan reruntuhan dan jejak abu di tengah asap yang baru sepenuhnya menghilang pada Kamis pagi.
Baca Juga: HUT ke-479 Semarang, Pemkot Hadirkan Naik BRT Gratis 5 Hari untuk Masyarakat
Upaya pemadaman berlangsung cukup lama, dengan sekitar 10 unit mobil pemadam kebakaran dan ratusan petugas dikerahkan untuk mengatasi kebakaran.
Situasi menjadi rumit karena Pasar Kanjengan adalah lokasi yang padat dengan bangunan semi permanen dan diisi dengan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti plastik dan kardus, sehingga api cepat menyebar antar kios.
Para pedagang hanya mampu menyelamatkan sedikit barang dagangan, sementara banyak lainnya hangus bersama dengan bangunan dan perlengkapan usaha mereka.
Baca Juga: Dialog Nasional di Semarang, Agustina Wilujeng Sebut Makan Bergizi Gratis Investasi Besar Masa Depan
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengatakan bahwa percikan api diduga berasal dari peti-peti buah kosong di bagian utara pertokoan, tepat di sekitar tempat penjual buah.
Seorang pedagang buah bernama Anton (36) melihat api muncul dari peti buah dekat kiosnya sebelum kemudian menyebar ke kios dan ruko di sekitar Blok F.
Investigasi untuk menemukan penyebab kebakaran masih sedang berlangsung, dengan pihak kepolisian dan tim forensik bekerja sama untuk menentukan apakah penyebabnya akibat faktor listrik, pembakaran sampah, atau faktor lain.
Bagi ratusan pedagang, kebakaran ini tidak hanya menghancurkan tempat berjualan mereka, tetapi juga mengancam penghidupan dan ekonomi keluarga mereka.
Baca Juga: Perjuangan Penjual Pentol di Semarang: Konsisten Menabung Hingga Bisa Naik Haji
Mayoritas kios yang terbakar berfungsi sebagai lokasi dagang harian, sehingga kerugiannya tidak hanya kematian bangunan fisik, tetapi juga kehilangan stok barang, modal, dan perlengkapan bisnis yang sulit untuk segera digantikan.
Beberapa pedagang mengungkapkan kekhawatiran mengenai kekurangan dana untuk membangun kembali atau memindahkan dagangan mereka ke lokasi sementara, karena sebagian besar modal mereka terbakar bersama kios.
Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Dinas Perdagangan telah menyatakan bahwa tim gabungan siap untuk menangani kebakaran tersebut dan mulai merancang langkah-langkah darurat bagi para pedagang yang terdampak.
Rencana awal yang disusun termasuk pendirian posko penanganan, pendataan pedagang, dan pencarian lokasi alternatif untuk tempat penampungan sementara agar perdagangan di Pasar Kanjengan tetap dapat berjalan meskipun dalam keadaan darurat.
Baca Juga: Semarang Tuan Rumah Kolaborasi ASEAN, Dorong Percepatan MBG
Kebakaran yang melanda ratusan kios di Pasar Kanjengan Semarang pada 29 April 2026 mengejutkan masyarakat kota dan mengingatkan akan pentingnya sistem perlindungan kebakaran, pengelolaan limbah, dan pemantauan instalasi listrik di pasar tradisional yang padat.
Peristiwa ini menegaskan bahwa keamanan lingkungan usaha dan mitigasi risiko kebakaran perlu menjadi perhatian utama yang harus dibagikan antara pemerintah, pengelola pasar, serta pedagang untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. (*)
Editor : Anita Fitriani